RSS
Post Icon

Always III

Disclaimer: I do not own anything, J.K. Rowling does.
Warnings: Super OOC parah, very cliché, cheesy, sappy, post-Hogwarts.
Pairing: Draco Malfoy – Hermione Granger
Genre: Romance & Drama
Rated: T


III

5 tahun kemudian…
“Seperti yang sudah saya katakan sejak awal, Anda baik-baik saja, Ma’am. Saya tidak mengerti kenapa Anda merasa harus memaksa saya untuk memeriksa kondisi kesehatan Anda,” kata seorang healer setengah baya dengan sangat sabar.
“Oh, tapi Mr Worth, aku benar-benar merasa tidak enak badan selama beberapa hari terakhir ini,” kata seorang wanita berambut pirang yang masih terlihat sangat cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi.
“Saya rasa tidak ada yang perlu dicemaskan sama sekali, Ma’am. Anda berada dalam kondisi sangat sehat. Saya tidak menemukan gejala-gejala penyakit berbahaya seperti yang Anda katakan tadi.”
“Tapi Mr Worth, seharusnya kau―”
Draco memutar bola matanya. Dia sedang berlatih untuk mulai membiasakan dirinya dengan hobi ibunya yang baru―mengunjungi St Mungo hampir setiap beberapa hari dan memaksa healer-healer di sana untuk memeriksa kondisi kesehatannya. Draco mendengus. Sebenarnya dia sama sekali tidak merasa keberatan dengan hobi baru ibunya itu, dan satu-satunya hal yang membuatnya merasa kesal adalah karena ibunya itu selalu menemukan cara untuk membuatnya mau menemani wanita itu ke rumah sakit.
Seperti dia tidak memiliki kegiatan lain yang lebih berguna saja. Dia mulai mengutuki kebodohannya sendiri ketika dia teringat pada tindakannya yang begitu bodoh beberapa minggu lalu. Dia pergi ke Kementrian Sihir Prancis―kementrian tempat dia tinggal selama lima tahun terakhir ini―di tengah malam buta dan memaksa mereka memberinya ijin untuk menggunakan portkey agar dia bisa kembali ke Inggris malam itu juga. Dia baru saja menerima surat dari ibunya yang mengatakan bahwa wanita itu sedang sakit keras dan berada dalam kondisi yang kritis. Draco yang saat itu masih menggunakan piayama tidurnya, segera pergi tanpa pikir panjang lagi. Dia bahkan tidak sempat berganti pakaian terlebih dulu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

.Her Request


Disclaimer: I own nothing. All rights go to J.K. Rowling and all her work.
Warnings: OOC parah, very cliché, alur cepet, post-Hogwarts, dan segala bentuk keanehan lainnya.

Her Request

“Kau bercanda, Granger,” kata Draco keras. Dia memandang Hermione dengan pandangan tak percaya. Well, saat ini dia memang sedang agak tidak mempercayai telinganya.
“Apa aku terlihat sedang bercanda, Malfoy?” tanya Hermione dengan senyuman polos yang Draco tahu—jauh sekali dari arti kata polos.
“Kau tidak mungkin memintaku untuk—untuk—” Draco tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Jelas sekali, bukan hanya telinganya saja yang bermasalah, tetapi bibirnya juga—mengingat dia tak pernah berbicara terbata-bata seperti itu sebelumnya.
“Aku sudah mengatakannya dengan sangat jelas, dan kau juga sudah mendengarnya dengan sangat jelas. Tak ada alasan bagimu untuk mengatakan tidak,” kata Hermione.
Draco mendengus. “Aku tak mau melakukan itu. Dan jangan tanya kenapa, karena itu adalah hal terkonyol yang pernah kau minta dariku. Kau tahu, aku tak bisa membayangkan diriku mengganti p—”
“Jangan bilang kau takut,” sela Hermione tak sabar.
“Ini bukan masalah takut atau tidak takut, tetapi masalah harga diri,” kata Draco semakin mendengus.
“Kau terlalu mengada-ada,” kata Hermione kesal. “Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan harga diri. Lagi pula aku hanya memintamu untuk menjaganya selama beberapa hari, sementara aku mengunjungi beberapa temanku di dunia Muggle untuk merayakan Hallowen tahun ini bersama mereka.”
“Kenapa kau tidak membawanya saja bersamamu?”
“Harus berapa kali kukatakan kalau aku tidak bisa, Malfoy?”
Well, kau bisa membawanya ke tempat penitipan.”
Mata Hermione membelalak lebar, dan Draco sempat berpikir bahwa gadis itu sedang memutuskan mantra apa yang paling cocok untuk dilontarkan ke arahnya. Pemuda itu sudah menyiapkan diri untuk menangkis serangan mantra apa pun yang mungkin akan dilontarkan gadis itu, ketika dia mendengar suara terbatuk dari arah tangga.
Kuharap kalian sedang tidak saling bertengkar lagi, Nak,” kata Narcissa sambil tersenyum lebar. Wanita itu sedang berdiri di anak tangga paling bawah, memperhatikan mereka dengan ekspresi geli yang terlihat jelas di wajahnya.
Mrs Malfoy,” sapa Hermione terkejut. Dia tidak menyadari bahwa Narcissa sudah berada di ruangan yang sama dengan mereka sejak tadi, menyaksikan argumen kecil merekayang sepertinya tidak akan mungkin bisa disebut kecil lagi, seandainya saja wanita itu tidak berinisiatif untuk menginterupsi mereka saat itu.
Oh, tidak, Bu,” kata Draco agak menyeringai. “Kami hanya sedang sedikit saling bertukar pikiran. Itu saja. Benar kan, Granger?”
Belum sempat Hermione menganggukkan kepalanya untuk mengiyakan kata-kata Draco, Narcissa sudah kembali berkata, “Sedikit saling bertukar pikiran dengan mengacungkan tongkat kalian masing-masing seperti itu?”
Wajah Hermione langsung merona ketika dia baru menyadari bahwa dia masih mengacungkan tongkatnya ke arah Draco, siap untuk memantrai pemuda itu dengan kutukan pertama yang terpikir di benaknya saat itu. Gadis itu segera menurunkan tongkatnya sambil melemparkan pandangan mematikan ke arah Draco, yang hanya membalas pandangannya dengan seringai yang semakin lebar. Pemuda itu sudah menurunkan tongkatnya sejak tadi, sejak dia mendengar suara ibunya yang menegur mereka. Dia tidak mau mendapatkan ceramah panjang lebar dari ibunya, tentang bagaimana cara bersikap yang baik pada seorang wanita, tentang bagaimana seharusnya dia menghargai mereka, dan tidak seharusnya dia berduel dengan mereka.
Yeah, tentu saja. Mungkin seharusnya aku memang membiarkan diriku terkena kutukan dari Granger. Dengan begitu, paling tidak aku jadi memiliki alasan untuk menolak permintaan konyolnya itu. Aku bisa berpura-pura sakit parah selama beberapa hari,’ pikir Draco.
Dia kembali memandang Hermione yang wajahnya masih merona, dan tidak bisa menahan diri untuk tidak menyeringai sekali lagi. Dia tidak akan pernah mengatakan atau mengakui hal ini pada siapa pun. Tetapi sejujurnya, dia menyukai ekspresi wajah Hermione yang merona seperti itu. Ekspresi itu membuat gadis itu terlihat sepertiwell, seperti seorang wanita.
Dia memang seorang wanita, Draco. Kau idiot,’ kata sebuah suara di dalam kepalanya.
Kau belum pernah merasakan bagaimana rasanya ditonjok olehnya. Pukulannya benar-benar keras, seperti seorang pria,’ kata sebuah suara lain.
Tentu saja aku pernah merasakannya. Aku juga bagian pikiranmu yang lain, ingat?’
Oh, diam kau. Kau membuatku gila.’
Kau memang sudah gila, Draco.’
Bukankah aku tadi sudah menyuruhmu untuk diam?’
Seharusnya kau tahu bahwa berargumentasi dengan dua buah suara di dalam pikiranmu adalah gejala awal dari kegilaan.’
Oh, diamlah kalian,” kata Draco keras.
Narcissa mendengus. Wanita itu sudah duduk dengan anggun di sofa mewah yang menghadap ke perapian, melemparkan pandangan mencela ke arahnya. Dan Hermione sudah berada di sebelah wanita itu, memandangnya dengan pandangan heran.
Cara yang sangat sopan untuk berbicara dengan ibumu, Draco,” cela Narcissa. “Aku hanya sedang bertanya hal apa yang sedang kalian debatkan hingga kalian perlu mengacungkan tongkat untuk bertukar mantra seperti itu. Dan Draco, sudah berapa kali kukatakan, tidak seharusnya kau mengacungkan tongkatmu kepada Hermione seperti yang kau lakukan tadi.”
Draco merasa kepalanya mulai berdenyut-denyut. Dia melemparkan tubuhnya di sofa yang berada di dekatnya, menghadap ke arah ibunya dan Hermione. Rupanya tadi ibunya sempat melihat dia mengangkat tongkatnya. Tetapi tidak ada salahnya mempertahankan diri, kan? Dia mengangkat tongkatnya hanya untuk menangkis serangan mantra kutukan Hermione, bukan untuk membalas mantra kutukan itu. Siapa yang tahu, mantra buruk apa yang bisa dilemparkan gadis itu kepadanya? Jelas sekali, dia tidak ingin dikejar ratusan burung kenari yang menyerang kepalanya dan membuat tatanan rambutnya yang sempurna menjadi berantakan seperti Harry Potter. Tidak akan pernah. Bahkan di dalam mimpinya sekali pun, dia tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.
Mungkin tadi tanpa kusadari Granger sempat meluncurkan mantra terbarunya yang belum pernah dia ceritakan. Mantra ilusi kegilaan. Lihat saja, pertama, aku sudah melakukan pembicaraan tak masuk akal di kepalaku. Dan kedua, aku tidak bisa berkonsentrasi pada pembicaraan di sekelilingku,’ pikir Draco lagi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Pikirannya kembali terpusat pada keadaan di sekelilingnya ketika dia mendengar suara Hermione yang berbicara dengan ibunya, menjelaskan alasan perdebatan mereka tadi.
Sebenarnya ini bukan sepenuhnya kesalahan Malfoy. Aku yang memaksanya untuk menjaga—”
Kau dengar itu, Bu? Dia yang memulainya terlebih dulu,” sela Draco.
Berhenti menyela pembicaraan orang lain, Draco,” kata Narcissa. “Kau akan mendapat giliran berbicara setelah Hermione selesai menceritakan semuanya.”
Draco mendengus, sementara Hermione menyeringai dan mulai menceritakan awal perdebatan mereka. Dia tidak tahu dari mana gadis itu bisa memiliki seringai yang sangat mirip dengan seringai miliknya. Yang dia tahu, seringai seperti miliknya hanya dimiliki oleh keturunan keluarga Malfoy. Dan sepertinya dia sudah salah besar mengenai hal itu.
Jadi, Mrs Malfoy, apakah menurut Anda permintaan saya itu keterlaluan?” tanya Hermione, memandang Narcissa dengan mata cokelatnya yang lebar, memasang ekspresi polos.
Oh, tidak. Tidak. Ini buruk, benar-benar buruk,’ pikir Draco lagi. ‘Tidak dengan pandangan mata itu, Granger. Tak akan ada yang mampu menolakmu dengan ekspresi wajahmu yang seperti itu.’
Termasuk kau sendiri, Draco. Akui saja, kau pun tidak akan mampu menolaknya.’
Belum sempat Draco membalas suara pertama, dia sudah mendengar suara ibunya yang menyetujui ide konyol Hermione dengan sangat antusias. Dan pada saat itu, dia tahu bahwa dia sudah kalah dan seharusnya menyerah. Tetapi tentu saja, bukan Draco Malfoy namanya jika dia tidak melakukan tindakan kekanakan dan berteriak keras pada kedua wanita di hadapannya.
Aku tak percaya kau lebih memihak Granger, Bu,” kata Draco, bangkit dari sofanya. “Sejauh yang kuingat, akulah yang menjadi putramu.”
Berhentilah bersikap kekanakan, Draco. Tak ada salahnya kalau kau mulai belajar untuk merawat se—”
Kau ingin melihatku menyiapkan makanan, membuang kotoran, dan mengganti p—”
Kau membuatnya terdengar seolah itu adalah hal paling menjijikkan di dunia, Malfoy,” seru Hermione sebal.
Tentu saja, Granger. Mungkin kau tidak tahu, tapi aku tak pernah melakukan hal itu sebelumnya. Aku lebih memilih untuk tidak memakai produk perawatan rambutku selama tiga hari daripada harus merawat makhluk itu, sementara kau bersenang-senang merayakan Halloween bersama teman-temanmu tanpa aku.”
Hermione memutar bola matanya. “Jadi itu masalahnya? Kau merasa diabaikan olehku? Tetapi bukankah kau sendiri yang beberapa hari lalu menolak ajakanku untuk merayakan Halloween di dunia Muggle?”
Draco terdiam selama beberapa saat. Dia baru ingat kalau Hermione sudah mengajaknya untuk tinggal bersama kedua orangtua gadis itu selama beberapa hari, dan merayakan Halloween di sana—bersama keluarga besar dan teman-teman Muggle gadis itu. Dan dia memang menolaknya dengan alasan dia tidak akan tahan hidup tanpa sihir, meskipun hanya beberapa hari saja. Mereka memang sudah cukup umur untuk melakukan sihir di luar dunia sihir. Tetapi tetap saja, dia tidak bisa melakukan sihir seenaknya dengan adanya banyak Muggle di sekitar mereka, kan?
Dan sekarang Hermione menuduhnya bahwa alasannya untuk tidak mau mengabulkan permintaan gadis itu adalah karena dia merasa diabaikan. Dia mendengus. Yang benar saja.
Kau tahu bukan itu masalahnya, Granger,” kata Draco mengeretakkan giginya. Dia sudah lupa kalau ibunya masih berada di ruangan itu.
Jadi apa masalahnya, Malfoy?” tanya Hermione dingin.
Oh, sudahlah,” kata Draco akhirnya. “Aku tak ingin membicarakan hal ini lagi. Aku pergi.” Dan tanpa menunggu jawaban dari Hermione, dia sudah menghilang di balik perapian, di antara kepulan asap hijaumeninggalkan gadis itu yang berteriak memanggil namanya agar dia kembali.

-o0o-

Rasanya baru sedetik saja Draco merasakan pusaran Bubuk Floo di sekitarnya, dan detik berikutnya, dia sudah berada di sebuah ruangan bercahaya temaram. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan diri dengan penerangan cahaya di ruangan itu. Beberapa saat kemudian, dia mendapati dirinya terlonjak kaget ketika pintu dari arah sebelahnya terbuka, menampilkan seseorang yang sepertinya baru saja membersihkan diridilihat dari handuk yang tergantung di leher orang itu, dan rambutnya yang masih basah.
Draco?” kata orang itu, tidak kalah terkejutnya. “Apa yang sedang kau lakukan di kamarku?”
Draco yang sudah berhasil mengatasi rasa keterkejutannya, hanya terdiam selama beberapa saat. Dia memandangi orang itu, kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang agak sedikit gelap itu.
Er, Blaise, kau tidak sedang—” Draco berhenti.
Aku sendiri, Draco. Tidak ada siapa-siapa di sini,” kata Blaise sambil melemparkan tubuhnya ke kursi santai di sudut ruangan, dan mulai mengeringkan kepalanya dengan handuk di lehernya.
Draco menarik napas lega. Dia duduk di tepi ranjang, menghadap Blaise, yang saat itu sudah memegang segelas Wiski Api di salah satu tangannya.
Kenapa kau mematikan lampu kamarmu?” tanya Draco, mengerutkan keningnya.
Blaise hanya mengangkat bahunya. “Tak apa-apa,” dia menyesap sedikit minuman yang ada di tangannya. “Trouble in paradise?” tanya Blaise setelah mereka terdiam selama beberapa menit.
Aku tak mengerti kenapa kau menyebutnya sebagai ‘paradise’, Blaise. Mengingat hal rutin yang kami lakukan setiap hari adalah berdebat dan berargumen,” jawab Draco. Dia membaringkan tubuhnya, dan meletakkan tangannya di bawah kepala, memandangi langit-langit kamar.
Blaise tidak berkomentar apa pun. Dia hanya menaikkan alisnya dan menyesap minumannya lagi. Memang suatu keajaiban, hubungan sahabatnya dengan Nona-Tahu-Segala itu bisa bertahan sampai sejauh ini. Seperti yang Draco katakan tadi, tak ada hal lain yang mereka lakukan selain bertengkar, bahkan untuk masalah yang menurutnya sangat kecil sekali punseperti misalnya bagaimana mereka akan menghabiskan akhir pekan mereka. Hermione ingin pergi ke satu tempat, dan Draco ingin pergi ke satu tempat lain yang bisa dipastikan selalu berlawanan arah dengan keinginan gadis itu. Dan sudah bisa ditebak, mereka akan menghabiskan akhir pekan mereka secara terpisah. Tetapi entah bagaimana, keesokan harinya mereka sudah bersikap normal lagi, seperti pasangan lain pada umumnya. Dan mereka bahkan masih memanggil satu sama lain dengan nama keluarga masing-masing, dan bukannya dengan nama depan mereka. Benar-benar suatu misteri.
Dan sejauh yang kutahu, kalian masih bertahan hingga sekarang,” kata Blaise. “No offense, tapi aku pernah bertaruh dengan Theo bahwa hubungan kalian tak akan bertahan hingga melebihi satu minggu.”
Draco menyeringai. “None taken, mate. Well, kurasa hubungan yang sempurna itu bukanlah hubungan yang tak pernah menemui masalah dan tak pernah bertengkar satu sama lain. Tetapi hubungan yang sering menemui banyak masalah, berbeda pendapat, bertengkar, dan tetap masih bisa bertahan karena dengan cara itulah mereka saling mengenal satu sama lain.”
Dan pada saat itulah, Blaise tersedak minumannya. Dia terbatuk, kemudian menepuk-nepuk dadanya sebelum kembali menemukan suaranya, dan berbicara dengan nada tak percaya. “Kau benar-benar Draco Malfoy, kan?”
Apa yang membuatmu berpikir aku adalah orang lain?”
Blaise menggelengkan kepalanya. “Lupakan saja. Jadi apa masalahnya sekarang?”
Draco menghela napas panjang. Kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya masalah mereka hanya satu: kekeras kepalaan mereka. Mungkin mereka tidak akan pernah bertengkar kalau saja Hermione tidak begitu keras kepala dan selalu berada di tempat yang berseberangan dengan dirinya. Tetapi jika tidak begitu, mungkin dia juga tidak akan pernah menganggap Hermione sebagai gadis yang berbeda dengan gadis-gadis lain yang ditemuinya. Dan perbedaan itulah yang membuatnya menjadi seorang Hermione Granger. Dia tidak pernah mengatakan bahwa gadis itu adalah gadis paling cantik, atau paling populer, atau paling sempurna yang pernah ditemuinya. Hermione hanyaseorang gadis yang memiliki keunikan dengan caranya sendiri. Itu saja.
Lebih baik aku kembali. Kita bicarakan ini nanti,” kata Draco sambil bangkit berdiri.
Terserah kau saja,” kata Blaise tanpa minat. Mungkin dia harus mulai belajar tentang bagaimana bersikap dalam menghadapi Draco yang baru ini.

-o0o-

Beberapa hari sudah berlalu sejak Draco meninggalkan Hermione bersama ibunya di depan perapian. Dan saat ini, dia sedang duduk di depan meja di kamarnya, mengetuk-ngetukkan pena bulunya sambil berpikir keras. Dia sudah memutuskan untuk tidak menghubungi Hermione sebelum gadis itu menghubunginya terlebih dulusuatu keputusan yang agak disesalinya. Meski bagaimana pun, dia yang meninggalkan gadis itu, dan seharusnya dialah yang menghubungi gadis itu dan meminta maaf terlebih dulu. Tetapi egonya memang sudah terlalu tinggi, dan bahkan ibunya sendiri pun tidak bisa berbuat apa-apa mengenai hal itu.
Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, memandang ke luar jendela, menatap sekumpulan bintang yang berpendar di sana. Dia masih memandangi langit ketika cahaya bintang-bintang itu terhalangi oleh bayangan besar. Bayangan itu semakin membesar, dan akhirnya mendarat di depan jendela kamarnya. Secara refleks, dia menyambar tongkatnya dan membuka jendela, membiarkan bayangan yang ternyata dua ekor burung hantu itu masuk ke dalam kamarnya, dan hinggap di ranjangnya.
Dia mengerutkan keningnya sebelum berjalan menghampiri dua ekor burung hantu itu. Dia tidak pernah melihat mereka sebelumnya, dan dia sama sekali tidak bisa menebak apa yang dibawa oleh kedua ekor burung hantu itu. Dengan agak ragu, dia membuka ikatan surat dan kotak besar yang isinya bergoyang-goyang dari kaki kedua ekor burung hantu itu. Dan mereka segera terbang ke luar jendela begitu ikatan kaki mereka dilepas. Jelas sekali, si pengirim surat dan kotak itu tidak mengharapkan balasan surat darinya pada saat itu juga.
Draco memegang surat itu, dan membaca namanya yang tertulis dengan sangat rapi di amplopnya. Dia tersenyum kecil. “Granger,” bisiknya. Tetapi senyumnya segera memudar, bahkan menghilang ketika dia membaca isi surat itu:
Malfoy,
Saat kau membaca surat ini, aku sudah berada jauh di dunia Muggle. Dan meskipun aku tahu kau bisa menemukanku kapan saja kau mau, aku yakin bahwa kau tak akan pernah repot-repot mencariku di sana. Benar? Ya, tentu saja. Aku memang selalu benar.
Tapi bukan hal itu yang ingin kukatakan padamu. Sama sekali bukan itu. Jadi abaikan saja satu kalimat terakhirku tadi, oke? Well, seperti yang sudah kukatakan dengan sangat jelas dan sudah kau dengar dengan sangat jelas juga (aku memang mengutip pembicaraan kita beberapa hari yang lalu di rumahmu), kau tetap harus mau mengabulkan permintaanku untuk bulan ini.
Sesuai perjanjian kita, setiap bulan, kau dan aku boleh meminta satu permintaan satu sama lain, dan yang satu harus mengabulkan permintaan yang lain. Dan aku ingat betul bahwa aku belum pernah meminta apa pun padamu selama satu bulan ini, kan? Kau sudah memintaku untuk menemanimu terbang selama hampir satu hari penuh saat kau marah padaku karena masalah jubah favoritmu ituyang sama sekali bukan kesalahanku, mengingat Crookshanks-lah yang merobeknya. Dan kau seharusnya tahu bahwa aku tidak pernah bersahabat baik dengan ketinggian.
Jadi kupikir aku akan menggunakan satu permintaanku untuk bulan ini: “Jaga Crookshanks”. Kau cukup memberinya makan dua kali sehari, dia bisa mencari makanannya sendiri. Dan jangan lupa ganti pasir tempat buang airnya setiap hari, Malfoy. Dan oh ya, sekadar peringatan, jangan pernah berpikir untuk meminta peri-rumah melakukan tugas ini.
Well, ya, kurasa itu saja. Kalau ada yang perlu kau tanyakan, jangan ragu untuk mengirimkan surat untukku. Oke?
Happy Halloween
Draco mendengus keras ketika dia sudah selesai membaca surat itu. Dia bisa membayangkan wajah Hermione yang menyeringai puas ketika menulis surat itu. Dia melewatkan beberapa hari ini berdebat dengan dirinya sendiri tentang bagaimana caranya dia bisa meminta maaf tanpa terkesan sedang meminta maaf pada gadis itu, sementara gadis itu melewatkan beberapa harinya dengan memikirkan cara yang paling tepat untuk membuatnya tidak bisa menolak permintaannya untuk menjaga kucing peliharaannyayang sepertinya memiliki obsesi tidak sehat pada jubah-jubah di lemari pakaiannya. Dan gadis itu berhasil. Sangat Slytherin sekali. Mungkin seharusnya dia merasa bangga pada Hermione.
Dia menunduk untuk membaca dua kalimat terakhir di bawah surat itu, dan dengusannya semakin keras:
P.S: Kunci lemari pakaianmu kalau kau tidak ingin jubahmu habis.
Hermione bahkan tidak menuliskan satu kata “maaf”pun di dalam surat itu. Dan setelah semua hal yang dilakukan gadis itu padanya, dia masih bisa menandatangani suratnya dengan kata, ‘The love of your life, Granger.’
Benar-benar tidak bisa dipercaya.
Draco meremas surat itu sebelum melemparkannya ke perapian. Dan dengan wajah masam, dia membuka kotak besar yang bergoyang-goyang sejak tadi di atas ranjangnya, mengeluarkan seekor kucing berbulu jingga tebal dan berwajah gepeng aneh. Kucing itu memandangnya dengan pandangan angkuh sebelum menguap lebar, meregangkan tubuhnya, dan meloncat turun dari atas ranjang.
Oh, kau akan membayar mahal semua ini bulan depan, Granger. Tunggu saja,” gumam Draco. Dia sudah mulai memikirkan berbagai cara untuk membalas perbuatan Hermione padanya.
Demi Merlin! Apa yang sebenarnya ada dalam pikiran gadis itu? Memintanya untuk mengganti pasir kotoran kucing? Memangnya dia pikir siapa dirinya?
Dan kau,” Draco melotot pada Crookshanks. “Jaga sikapmu, atau kau harus berdiet sampai Granger kembali.”
Dan dia mengatakan hal itu, seolah kucing itu bisa mengerti kata-katanya. Dan mungkin memang benar begitu. Crookshanks bukan sekadar kucing biasa, kan?

-END-

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

Potret

Musim berlalu berganti musim
Mentari terbit dan tenggelam
Dan aku di sini memandang pada potretmu
Kembali jiwaku terluka
Dan aku di sini yang tak bisa melihat
Melangkah pada kemarin dan esok

Memang dukaku, duka yang bisu
Tak ada air mata mengalir
Kenangan bersamamu datang setiap malam
Menikam kalbuku dalam sepi

Ada nyanyian di dalam dada
Untuk hati yang tak penah berbunga
Untuk cinta yang tak pernah berjalan semestinya
Dan aku menatap kesedihan

Kau diam-diam telah pergi hilang bersama waktu
Tinggal potretmu di sini tergantung bisu
Dan tinggal cinta sendiri tergantung kelu
Dalam duniaku yang gelap, dan yang semakin gelap
Dalam tidurmu yang panjang, yang tak mampu kubangunkan
Mengapa maut harus pisahkan kita

Aku di sini dengan tongkatku
Tak lagi mendengar kau bercerita
Tentang bukit yang biru
Tentang putihnya awan-awan

Dan aku menatap kesedihan…

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

The Destiny VI

Disclaimer: I do not own anything, J.K. Rowling does.
Warnings: OOC parah, sinetroness, kacau, abal, aneh, gaje, post-Hogwarts.
Pairing: Draco Malfoy – Hermione Granger
Genre: Romance & Humor
Rated: T

VI

Draco mengetuk-ngetukkan jari tangannya di salah satu meja di Three Broomstick. Berkali-kali dia melirik jam tangannya dan memandang pintu masuk. Dia sudah menghabiskan Wiski Apinya yang ketiga, tetapi ujung batang hidung Granger belum terlihat juga. Dia menghela napas dan kembali mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. Menunggu memang kegiatan yang paling membosankan.
Draco mengedarkan pandangannya ke ruangan di sekitarnya. Tak banyak yang berubah pada tempat itu. Dia melihat ada banyak siswa Hogwarts yang sedang menikmati Butterbeer di kedai minum paling terkenal di Hogsmeade itu, dan Madam Rosmerta sedang sibuk melayani pelanggan-pelanggannya. Pikirannya melayang kembali ke masa-masa ketika dia masih bersekolah di Hogwarts. Rasanya baru kemarin dia menerima surat dari Hogwarts, membeli tongkat sihirnya, naik kereta api menuju Hogwarts untuk pertama kalinya, memakai Topi Seleksi, dan masih banyak lagi hal-hal lain yang tidak akan pernah mungkin bisa dia lupakan di sekolah itu. Cepat sekali tahun-tahun itu berlalu.
Pikirannya teralih ketika dia mendengar pintu kedai Three Broomstick berderit―menandakan ada seseorang yang baru saja membukanya. Pandangannya segera tertuju pada seorang gadis berambut cokelat yang sepertinya sedang mencari seseorang. Dia tidak mengenalinya. Tatapannya kembali ke gelas Wiski Apinya yang sudah hampir kosong.
Dia baru saja akan beranjak dari tempat duduknya untuk mengisi ulang gelasnya ketika dia melihat gadis berambut cokelat tadi berjalan ke arah mejanya. Gadis itu tersenyum gugup sebelum menyapanya dengan ragu-ragu, “Malfoy.”
Suara itu. Draco pernah mendengarnya di suatu tempat. Dia memandang gadis itu, mengerutkan dahinya, mencoba mengingat-ingat di mana dia pernah bertemu dengan gadis itu. Dia memperhatikan wajah gadis itu, dan pandangannya terhenti di kepala gadis itu. Dan kemudian dia tahu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

Hilang

Tersenyumlah saat kau mengingatku
Karena saat itu, aku sangat merindukanmu
Dan menangislah saat kau merindukanku
Karena saat itu, aku tak berada di sampingmu
Tetapi pejamkanlah mata indahmu itu
Karena saat itu, aku akan terasa ada di dekatmu
Karena aku telah berada di hatimu untuk selamanya

Tak ada lagi yang tersisa untukku
Selain kenangan-kenangan yang indah bersamamu
Mata indah yang dengannya aku biasa melihat keindahan cinta
Mata indah yang dahulu adalah milikku
Kini semuanya terasa jauh meninggalkanku
Kehidupan terasa kosong tanpa keindahanmu
Hati, cinta, dan rinduku adalah milikmu

Cintamu takkan pernah membebaskanku
Bagaimana mungkin aku terbang mencari cinta yang lain
Saat sayap-sayapku telah patah karenamu
Cintamu akan tetap tinggal bersamaku
Hingga akhir hayatku, dan setelah kematian
Hingga tangan Tuhan akan menyatukan kita lagi

Betapa pun hati telah terpikat pada sosok terang dalam kegelapan
Yang tengah menghidupkan sinar redupku
Namun tak dapat menyinari, dan menghangatkan perasaanku yang sesungguhnya
Aku tidak akan pernah bisa menemukan cinta yang lain, selain cintamu
Karena mereka tak tertandingi oleh sosok dirimu dalam jiwaku
Kau takkan pernah terganti, bagai pecahan logam

Mengekalkan, kesunyian, kesendirian, dan kesedihanku
Kini… aku telah kehilanganmu…

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

Always II

Disclaimer: I do not own anything, J.K. Rowling does.
Warnings: Super OOC parah, very cliché, cheesy, sappy, akhir tahun ketujuh.
Pairing: Draco Malfoy – Hermione Granger
Genre: Romance & Drama
Rated: T

II

Pagi itu suasana di Stasiun Hogsmeade sangat ramai, dipenuhi oleh anak-anak yang akan pulang ke rumah masing-masing untuk liburan musim panas. Hermione terlihat berdiri sendiri di tengah lautan anak-anak itu, sedang menjulurkan kepalanya untuk mencari seseorang. Gadis itu sedang mencari Draco, dia belum melihat pemuda itu sejak tadi pagi. Dia masih menjulurkan kepalanya ke segala penjuru stasiun ketika terdengar pengumuman bahwa lima menit lagi kereta akan berangkat. Dia mendesah kecewa sebelum akhirnya masuk ke dalam kereta. Tak ada gunanya mencari seseorang di tengah lautan manusia seperti ini. Paling tidak, dia masih bisa bertemu dengan pemuda itu di Kompartemen Ketua Murid nanti, pikirnya.
Dan dia harus mendesah kecewa sekali lagi ketika mendapati Kompartemen Ketua Muridnya masih kosong. Tak ada tanda-tanda keberadaan Draco di sana, bahkan koper pemuda itu pun tidak terlihat. Gadis itu menarik napas panjang sebelum membuka kopernya sendiri, mengambil salah satu buku bacaan ringan dan mulai membacanya sambil menunggu kedatangan Draco.
Hermione sudah membaca hampir setengah dari bukunya, dan kereta yang dia naiki juga sudah berada jauh meninggalkan Hogwarts, tetapi Draco masih belum terlihat juga. Gadis itu menggeliat untuk merenggangkan otot-ototnya yang terasa agak kaku akibat duduk dalam posisi yang sama selama berjam-jam. Dia bangkit berdiri, berniat untuk mencari Draco di kompartemen yang lain.
Gadis itu sudah hampir berada di ujung gerbong kereta, tetapi dia belum berhasil menemukan Draco. Dan dia mulai merasa cemas, tidak biasanya pemuda itu menghilang begitu saja tanpa memberi tahunya terlebih dahulu. Dia sudah melewati beberapa kompartemen berikutnya, dan akhirnya tersenyum lebar ketika mendengar suara Draco sedang berbicara dengan seseorang di salah satu kompartemen yang berada di bagian gerbong paling ujung. Dia menghampiri kompartemen itu, sudah akan membuka pintunya, ketika seluruh gerakan tubuhnya terhenti total. Tangannya yang memegang gagang pintu terasa membeku dan tidak bisa digerakkan sama sekali.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

The Destiny V

Disclaimer: I do not own anything, J.K. Rowling does.
Warnings: OOC parah, sinetroness, kacau, abal, aneh, gaje, post-Hogwarts.
Pairing: Draco Malfoy – Hermione Granger
Genre: Romance & Humor
Rated: T

V

Hermione sedang menyiapkan makan malam di dapurnya ketika dia mendengar suara seseorang yang memanggilnya dengan terburu-buru.
“Hermione! Di mana kau?”
Hermione keluar dari dapurnya, menuju ruang tamunya, dan melihat Harry yang berantakan. Belum sempat dia menyapa Harry, pemuda itu sudah menariknya duduk. “Hermione, kau tak akan mempercayai apa yang akan kukatakan. Tetapi kau harus percaya. Dan meskipun aku tidak begitu yakin, kurasa ini satu-satunya cara untuk keluar dari masalahmu. Kecuali kalau kau mau menerima bantuanku―yang sudah berkali-kali kau tolak―”
“Harry,” sela Hermione.
“―aku tahu kedengarannya memang sangat tidak―”
“Harry,” sela Hermione lagi.
“―masuk akal, dan percayalah aku juga menganggapnya―”
“Harry,” Hermione memutar bola matanya.
“―gila, tapi Zabini menceritakan semuanya sejak a―”
“HARRY! Aku sama sekali tak tahu apa yang sedang kau bicarakan,” seru Hermione kesal.
“Oh,” akhirnya Harry berhenti. “Kurasa aku terlalu terbawa suasana. Sori, Hermione.”
“Yeah, kurasa memang begitu. Jadi apa yang terjadi sebenarnya? Dan Harry, jangan bilang kau baru saja kembali dari tempat pelatihan Auror dan langsung ke flatku. Merlin! kau berantakan sekali,” cela Hermione.
Well, aku memang baru saja selesai pelatihan Auror, dan aku belum sempat membersihkan diri. Tapi aku memiliki alasan untuk itu, dan seperti yang akan kukatakan ta―”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

The Destiny IV


Disclaimer: I do not own anything, J.K. Rowling does.
Warnings: OOC parah, sinetroness, kacau, abal, aneh, gaje, post-Hogwarts.
Pairing: Draco Malfoy – Hermione Granger
Genre: Romance & Humor
Rated: T

IV

“Aku bersumpah, Harry. Aku akan membunuh Straton kalau dia berani memaksaku melakukan latihan seperti ini lagi,” kata Ron tersengal-sengal. Keringat membasahi sekujur tubuhnya, mereka baru saja melakukan latihan yang menurut Ron adalah latihan terberat yang pernah mereka jalani.
“Kau tahu bagaimana aturannya, Ron. Jangan selalu mengeluh,” jawab Harry sambil menyeka keringat di dahinya.
“Semua ini tak akan terjadi kalau kau mau menerima tawaran Kingsley untuk jadi Auror secara langsung tanpa harus ikut pelatihan.”
“Yeah, benar. Dan semua ini juga tak akan terjadi kalau kau mau menerima tawarannya juga. Aku tak ingat pernah memintamu untuk mengikuti pelatihan ini bersamaku.”
Ron tidak menjawab. Dia sibuk mengaduk-aduk lokernya mencari handuk. “Kurasa aku mau mandi saja. Dan setelah ini aku akan menemui Lavender. Sebaiknya kau juga bersiap-siap pulang, Harry. Ginny sudah merencanakan makan malam bersamamu.”
“Sebentar lagi,” gumam Harry, menghabiskan air mineral dalam botolnya.
“Oke,” kata Ron sebelum dia pergi meninggalkan Harry. Dia melangkah keluar menuju kamar mandi di sudut ruangan.
Harry duduk sambil kembali menyeka keringatnya. Dia meluruskan kakinya dan menoleh ketika mendengar langkah-langkah kaki yang menghampirinya.
“Potter,” sapa seseorang dari arah kanannya.
“Zabini,” balas Harry.
Sebagai calon Auror, Harry dan Blaise sering sekali memiliki jadwal pelatihan yang sama. Dan seiring berjalannya waktu, hubungan mereka semakin membaik. Tetapi tentu saja hal itu tidak berlaku bagi Ron. Itulah sebabnya Blaise menunggu Ron pergi dulu sebelum dia menghampiri Harry.
Blaise duduk di sebelah Harry. “Aku tidak pernah melihat Hermione beberapa waktu belakangan ini,” katanya santai.
“Aku tidak tahu kau tertarik pada Hermione,” jawab Harry.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

Realization


Disclaimer: I do not own anything, J.K. Rowling does.
Warnings: OOC parah, cliché, kacau, alur kecepetan, post-Hogwarts.
Pairing: Draco Malfoy – Hermione Granger
Genre: Romance & Angst
Rated: T

Realization

Awal Juni, awal musim panas—salah satu musim favoritku. Well, sebenarnya ini bukan berita baru mengingat hampir semua orang memang menyukai musim panas—dan karena alasan yang sangat umum, kurasa. Kau bisa menikmati sinar matahari tanpa batas, memandang bunga-bunga yang bermekaran di sekelilingmu, atau bahkan berbaring di rerumputan di luar rumah pada malam hari. Tak melakukan apa pun, hanya berbaring diam di sana dan menatap langit malam—membebaskan imajinasimu yang paling liar sekali pun. Dan aku tidak bisa tidak tersenyum ketika membayangkan diriku sendiri melakukan semua hal itu. Aku menghela napas panjang, mungkin suatu hari nanti aku bisa melakukan hal itu. Bersamanya.
Aku menolehkan kepalaku ke sisi tempat tidur di sampingku, dan seperti yang sudah kuduga, seperti yang selalu terjadi di setiap malam ketika aku terjaga, aku mendapati sisi itu kosong. Hanya ada tumpukan bantal yang agak berantakan, menandakan ada seseorang yang pernah berbaring di atasnya selama beberapa saat. Dia pasti segera menyelinap keluar begitu aku mulai terlelap.
Aku masih berbaring diam tak bergerak selama beberapa menit berikutnya, hanya memandangi langit-langit kamar yang temaram dan mendengarkan suara detik jarum jam yang begitu jelas terdengar di keheningan kamar ini. Beberapa menit lagi berlalu, dan aku mulai merasa bosan. Mungkin tak ada salahnya keluar kamar untuk sekadar mencari suasana lain.
“Kau terbangun lagi?” tanya sebuah suara dari arah ruang duduk, mengejutkanku.
Well, aku tak pernah tahu bagaimana caranya dia bisa mengetahui keberadaanku seperti itu. Dia bahkan tak perlu menolehkan kepalanya dan melihat ke arahku untuk mengetahui bahwa aku berada di ruangan yang sama dengannya. Aku selalu berusaha meyakinkan diriku bahwa hal itu disebabkan karena dia memiliki ikatan batin denganku. Dan aku benar-benar berharap seperti itulah kenyataannya.
Aku tersenyum tipis sebelum berjalan menghampirinya. Dia sedang duduk menghadap perapian, menyandarkan kepalanya di sofa, dan memejamkan matanya rapat-rapat. Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya aku melihatnya dalam posisi seperti itu. Aku bahkan berani bertaruh dengan apa pun dan mengatakan bahwa dia selalu menyendiri di ruangan ini hampir setiap malam. Entah apa yang sedang dipikirkannya, aku tak pernah tahu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

The Destiny III


Disclaimer: I do not own anything, J.K. Rowling does.
Warnings: OOC parah, sinetroness, kacau, abal, aneh, gaje, post-Hogwarts.
Pairing: Draco Malfoy – Hermione Granger
Genre: Romance & Humor
Rated: T

III

Hermione belum memiliki kegiatan apa-apa hari ini. Ahirnya dia memutuskan untuk melewatkan hari ini dengan berjalan-jalan di sekitar Diagon Alley, mungkin hal itu bisa membantunya untuk melupakan masalahnya meskipun hanya sebentar. Dia bangkit dari kursinya, menghela napas. Sepertinya dia memang sering sekali menghela napas akhir-akhir ini.
Dia kembali ke kamarnya di lantai atas untuk berganti pakaian. Tak lama kemudian, dia sudah siap dan sudah akan ber-Apparate ketika dia merasa berjalan kaki ke Diagon Alley akan jauh lebih baik baginya. Lagi pula letak flatnya juga tidak terlalu jauh dari tempat itu. Dia menuruni tangga, dan setelah memastikan semua pintu flatnya terkunci, dia pergi menuju Diagon Alley.
‘Mungkin sebaiknya aku ke Flourish and Blotts saja,’ pikir Hermione dalam perjalanannya. Membaca selalu bisa mengalihkan perhatiannya. ‘Atau mungkin aku bisa ke Florean Fortescue, kudengar ada es krim rasa baru di sana. Aku bisa mencobanya,’ pikir Hermione lagi.
Akhirnya dia sampai di gerbang Diagon Alley. Dia mengeluarkan tongkatnya, dan mengetuk tembok batu yang merupakan gerbang menuju Diagon Alley sebanyak tiga kali. Gerbang itu membuka, dan dia segera melangkah masuk ke dalamnya.
Hari itu cuaca agak mendung. Tapi London memang hampir selalu berkabut setiap harinya, bahkan di musim panas sekali pun. Hermione memandang sekelilingnya, banyak sekali yang sudah berubah sejak dia menginjakkan kakinya untuk yang pertama kali di tempat itu. Banyak toko-toko baru bermunculan di sana-sini, dan sepertinya semakin hari tempat itu semakin ramai saja. Kejatuhan Voldemort memang banyak membawa hal-hal baru, hal-hal yang lebih baik tentunya.
“Hermione,” panggil seseorang dari belakangnya. Dia menoleh untuk melihat orang yang dipanggilnya, dan tersenyum lebar ketika dia mengenali orang itu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

In His Dream

Disclaimer: I do not own anything, J.K. Rowling does.
Warnings: OOC parah, cliché, kacau, alur kecepetan, post-Hogwarts.
Pairing: Draco Malfoy – Hermione Granger
Genre: Romance & Angst
Rated: T

In His Dream

“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Draco ketika dia melihat gadis yang sedang duduk di sampingnya tiba-tiba tersenyum tanpa alasan.
“Tidak ada,” jawab gadis itu ringan.
Draco mengerutkan dahinya. “Kau berbohong.”
Gadis itu menghela napas panjang. Tidak mengatakan apa-apa. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Draco. Suasana hening, tak ada suara sama sekali. Hanya suara detik jarum jam yang terdengar perlahan memenuhi ruangan itu.
“Mione?” panggil Draco sambil menyelipkan sejuntai anak rambut ke belakang telinga gadis itu. Dan dia melakukan hal itu hanya agar dia memiliki alasan untuk bisa menyentuh pipi gadis itu.
“Tak ada gunanya aku membohongimu, Draco. Kau juga akan segera mengetahuinya kalau aku mencoba untuk melakukan itu,” jawab Hermione santai.
Draco menyeringai. “Well, aku senang kau menyadari kelemahanmu yang satu itu. Karena kau memang pembohong yang sangat buruk, Granger. Jadi jangan pernah mencoba untuk membohongiku.”
Hermione memutar bola matanya. “Kalau kau mengetahui hal itu, kenapa kau masih saja menuduhku berbohong?”
“Aku tidak menuduh begitu,” bantah Draco.
“Jadi?” tanya Hermione.
“Aku hanya mengira,” kata Draco tak bisa menyembunyikan senyum jahilnya.
“Memangnya apa perbedaan antara menuduh dan mengira?” tanya Hermione sambil mendengus.
“Kenapa tidak kau tanyakan pada dirimu sendiri saja? Kukira kau mengetahui segalanya?”
“Aku serius, Draco,” kata Hermione mulai kesal.
“Dan kau pikir aku tidak serius?” Draco balik bertanya.
“Ugh, kurasa pembicaraan ini tidak akan pernah berakhir.”
Draco tersenyum kecil. “Aku memang tidak pernah menginginkan semua ini berakhir.”
Hermione diam. Dia mengangkat kepalanya yang sejak tadi disandarkan di bahu Draco, dan menatap mata kelabu pemuda itu. Gadis itu tersenyum sedih, membuat senyum kecil yang terhias di wajah Draco menghilang secara perlahan. Pemuda itu meletakkan kedua tangannya di pipi Hermione, menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dibaca.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

The Destiny II


Disclaimer: I do not own anything, J.K. Rowling does.
Warnings: OOC parah, sinetroness, kacau, abal, aneh, gaje, post-Hogwarts.
Pairing: Draco Malfoy – Hermione Granger
Genre: Romance & Humor
Rated: T

II

Hermione bangun dari tidurnya merasa sangat pusing. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum berjalan terhuyung-huyung menuju kamar mandi. Kepalanya terasa sangat berat dan perutnya agak mual. Dia teringat peristiwa tadi malam, dan mengerang. Akhirnya dia memutuskan untuk tidak akan pernah menyentuh alkohol lagi sepanjang sisa hidupnya.
Semalam dia pasti mabuk berat sampai tak bisa mengingat apa pun kecuali bagian ketika dia merenggut gelas Wiski Api Harry dan meminum isinya sampai habis. Setelah itu semuanya terasa gelap dan dia tak bisa mengingat apa-apa lagi. Dia bahkan tak tahu bagaimana dia bisa kembali ke flatnya. ‘Pasti Harry yang mengantarku pulang,’ pikirnya.
Dia keluar dari kamar mandi dan merasa jauh lebih baik. Dia mengamati pakaiannya dan menyadari bahwa dia masih mengenakan pakaian yang sama dengan pakaian yang dikenakannya tadi malam di Leaky Cauldron. Dia menghela napas, dan memutuskan untuk berendam air hangat.
Beberapa waktu kemudian dia keluar dari kamar mandi dengan wajah yang jauh lebih segar dan turun menuju dapur. Aroma makanan segera menyerbu hidungnya ketika dia memasuki dapur.
“Pagi, Hermione,” kata Harry yang sedang duduk dengan santai di salah satu meja makannya, menikmati secangkir kopi sambil membaca Harian Prophet. “Kopi?”
“Harry?” tanya Hermione terkejut.
“Yeah, aku.”
“Apa yang kau lakukan di dapurku?”
“Membuatkan sarapan untukmu?”
Hermione mengedarkan pandangannya ke meja makan. Benar saja, di meja makan sudah tersaji telur dan sosis goreng. Bahkan ada setumpuk roti panggang yang masih hangat. Pantas saja tadi dia mencium aroma makanan. Hermione tersenyum dan mengambil tempat duduk di hadapan Harry. Kalau ada keuntungan tinggal bersama keluarga Dursley―itu adalah kemampuan Harry untuk bisa memasak.
Hermione mengambil piring dan mulai makan. “Er―trims, Harry. Tapi maksudku, apa yang kau lakukan sepagi ini di dapurku? Dan bukankah seharusnya kau mengikuti pelatihan Auror?”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

Always I


Disclaimer: I do not own anything, J.K. Rowling does.
Warnings: Super OOC parah, very cliché, cheesy, sappy, akhir tahun ketujuh.
Pairing: Draco Malfoy – Hermione Granger
Genre: Romance & Humor
Rated: T

Always

Akhir bulan Juni, awal memasuki musim panas―musim di mana matahari mulai bersinar hangat. Tetapi entah bagaimana, malam ini suasana terasa sangat dingin dan hening. Tak terdengar suara apa pun di tempat itu. Hanya suara angin malam yang berhembus perlahan menabrak kaca-kaca jendela, serta suara binatang-binatang malam di kejauhan yang terdengar di telinga Draco.
Pemuda itu sedang duduk di tepi ranjang, mengamati seorang gadis berambut cokelat yang tertidur dengan sangat pulas. Dia tersenyum kecil ketika melihat wajah gadis itu, wajah yang begitu tenang dan damai, yang juga bisa selalu membuatnya merasa tenang dan damai setiap kali dia melihatnya. Dia tak tahu sejak kapan dia memiliki kebiasaan memperhatikan gadis itu di saat sedang tertidur di malam hari. Yang dia tahu, dia memang suka melakukannya. Melihat pergerakan napas kehidupan di dadanya, mengamati rambut cokelatnya yang terurai di atas bantal, memandangi bibir tipisnya yang mengulas sebuah senyum kecil, atau hanya sekadar memperhatikan matanya yang terpejam. Kesempurnaan yang paling indah baginya. Betapa dia sangat mengagumi dan ingin memiliki semua itu untuk selamanya.
Dia menghela napas panjang sebelum mengulurkan tangannya untuk membelai rambut cokelat itu―salah satu kegiatan favoritnya selama beberapa bulan terakhir ini. Dia menghentikan gerakan tangannya ketika menyadari kelopak mata itu membuka, dan sebuah bola mata cokelat paling manis yang pernah dia lihat balas memandangnya.
“Draco?” tanya Hermione bingung.
“Apa aku sudah membuatmu terbangun?” tanya Draco.
“Kau belum tidur?” tanya Hermione lagi.
Draco tidak menjawab, dia hanya mengangkat bahunya. Gadis itu melirik jam yang tergantung di salah satu dinding kamarnya. Jarum jam itu sudah menunjukkan lewat tengah malam. Dia mengerutkan dahinya sebelum bangkit dari posisi tidurnya, dan duduk di sebelah pemuda itu.
Dia meletakkan kepalanya di bahu pemuda itu. Di saat-saat seperti ini, dia akan membiarkan dirinya percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja, bahwa semuanya akan selalu seperti ini, bahwa semuanya akan selalu sempurna. Dan dia sering bertanya pada dirinya sendiri, apakah ada kebahagiaan yang berlangsung selamanya seperti yang dia rasakan sekarang?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

The Destiny I

Disclaimer: I do not own anything, J.K. Rowling does.
Warnings: OOC parah, sinetroness, kacau, abal, aneh, gaje, post-Hogwarts.
Pairing: Draco Malfoy – Hermione Granger
Genre: Romance & Humor
Rated: T

I

Hermione Granger mengedarkan pandangannya ke sudut-sudut ruangan di Leaky Cauldron, mencari kedua sahabatnya―Harry Potter dan Ron Weasley. Penerangan di ruangan itu tidaklah terlalu baik, sehingga dia harus menyipitkan matanya agar bisa melihat dengan lebih jelas.
‘Di mana mereka?’ tanya gadis itu dalam hati. Dia mengedarkan pandangannya sekali lagi, sebelum mendengar suara seseorang yang memanggil namanya.
“Hermione! Di sini!” Gadis itu menoleh ke sebelah kanannya, dan menemukan pemilik suara yang familiar itu. Senyumnya merekah ketika dia melihat Harry sedang duduk bersama Ron tak jauh dari tempatnya berdiri.
“Harry!” sapa gadis itu. Dia melambai dan berjalan mendekati mereka. “Aku tidak melihat kalian duduk di situ.”
“Kami juga tak melihatmu,” kata Harry berdiri, dan memeluk gadis itu.
Hermione mengangkat bahunya, dan duduk di sebelah Ron. “Ron, kau baik-baik saja?” tanyanya ketika melihat Ron yang sepertinya agak gugup.
“Er―yeah, tentu. Bagaimana kabarmu, Hermione?” tanya Ron.
“Aku baik,” jawab gadis itu sambil melemparkan pandangan ke arah Harry yang menolak untuk membalas pandangannya.
‘Ada yang mereka sembunyikan,’ kata gadis itu lagi dalam hati. “Jadi, bagaimana pelatihan Auror kalian?” tanya gadis itu lagi.
Saat ini Harry dan Ron sedang mengikuti pelatihan Auror di Kementrian. Sebenarnya mereka tidak perlu repot-repot mengikuti pelatihan itu, karena setelah semua jasa-jasa mereka dalam mengalahkan Voldemort beberapa waktu yang lalu, tentu saja Kementrian Sihir akan dengan senang hati menerima mereka sebagai Auror. Selain itu, kemampuan sihir Harry dan Ron sudah jelas teruji.
“Seperti biasanya, apa peduliku?” jawab Ron tak acuh.
Hermione menyipitkan matanya berbahaya. Harry yang mulai merasa akan terjadi pertengkaran, segera menengahi mereka. “Er―Hermione, kurasa Ron hanya kelelahan.”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

Time After Time

Disclaimer: I do not own anything, J.K. Rowling does.
Warnings: Super OOC parah, gaje, sappy, cheesy, post-Hogwarts.
Pairing: Draco Malfoy – Hermione Granger
Genre: Romance & Drama
Rated: T

Time After Time

Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam, dan Draco Malfoy masih terjaga. Sejak tadi dia hanya berbaring di atas tempat tidurnya, tidak melakukan apa-apa. Dia menghela napas panjang, mengedarkan pandangan ke sekeliling kamarnya yang terasa sangat sepi dan gelap, mencari-cari sesuatu yang bisa mengalihkan perhatiannya dari suasana yang terasa sangat tidak nyaman itu. Dan pandangannya berhenti pada sebuah foto besar yang tergantung di salah satu dinding kamarnya. Fotonya bersama seorang wanita cantik mengenakan gaun putih panjang―foto pernikahannya.
Dia tersenyum ketika dia mengingat hari yang menurutnya adalah hari paling membahagiakan dalam hidupnya. Semuanya masih terekam dengan sangat jelas di kepalanya, dan dia memang tidak akan pernah melupakannya. Tepat lima tahun yang lalu, pada tanggal yang sama dengan hari ini―dia berdiri di depan altar dengan gelisah, menunggu calon istrinya yang sudah memutuskan untuk menyiksanya dengan sengaja berlama-lama berada di ruang rias, sementara Harry dan Blaise tak henti-hentinya mengatakan hal-hal yang hanya membuat kegelisahannya semakin bertambah. Dan setelah beberapa menit yang terasa seperti berabad-abad baginya, akhirnya dia mendengar musik itu. Musik paling indah yang pernah dia dengar dalam hidupnya―mars pernikahan.
Dia mengangkat kepalanya dan memandang ke ujung lorong, dan dia bersumpah kalau pada saat itu jantungnya sudah berhenti berdetak ketika melihat calon istrinya berjalan dengan sangat anggun, menuju ke arahnya. Senyum lebar mengembang di wajah wanita itu, dan dia yakin sekali kalau pada saat itu wajahnya juga memiliki ekspresi yang sama dengan wanita itu.
Setelah itu, semuanya berjalan dengan sangat baik dan normal. Bahkan bisa disebut sempurna. Mereka menjalani hidup mereka dengan tenang. Tidak ada perang, dan tidak ada permusuhan. Semua orang sudah menjalin hubungan baik satu sama lain. Dan dia bahkan berteman dekat dengan Harry dan Ron.
Ya, Harry Potter dan Ronald Weasley. Ketika dia masih bersekolah di Hogwarts, dia pasti akan tertawa keras-keras kalau ada seseorang yang mengatakan bahwa dia akan berteman dekat dengan kedua Gryffindor itu. Tetapi lihat apa yang terjadi sekarang, dia berteman dekat dengan mereka―sama seperti dia berteman dekat dengan Blaise dan Theo. Memang ada begitu banyak hal yang berubah selama ini. Kejatuhan Voldemort telah membawa perubahan yang begitu drastis pada dunia sihir. Perubahan yang lebih baik, tentu saja. Dan dia tidak bisa tidak merasa bahagia di setiap detik dalam hidupnya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

The Way It Is

Disclaimer: I do not own anything, J.K. Rowling does.
Warnings: OOC parah, aneh, gaje.
Pairing: Draco Malfoy – Hermione Granger
Genre: Romance
Rated: T

The Way It Is

Mereka selalu bertemu. Di tempat yang selalu sama, di waktu yang selalu sama.
Waktu saat bulan menggantikan posisi matahari, saat bintang bersinar di atas langit, saat binatang-binatang malam keluar dari persembunyian mereka, dan saat dunia terasa bagai mati bagi mata orang-orang yang terlelap.
Tak ada seorang pun yang mengetahui apa yang mereka lakukan, bahkan mereka sendiri pun tidak mengetahui mengapa dan bagaimana mereka melakukan itu.
Yang mereka tahu, mereka hanyalah dua manusia biasa yang dipertemukan oleh keadaan.
Keadaan? Bukankah akan jauh lebih tepat jika disebut takdir?
Baiklah, takdir kalau begitu. Takdir yang mempertemukan dua orang yang begitu berbeda, begitu bertolak belakang, tetapi begitu saling melengkapi.

-o0o-

Dan di tempat ini, saat ini, mereka bertemu kembali.
Berbaring bersisian di atas rerumputan basah, memandang langit malam yang cerah. Tanpa saling bertukar kata dan kalimat, seakan berada di dua tempat yang berbeda, dalam dua dimensi yang berbeda, tetapi dalam dunia yang sama.
“Bagaimana kabarmu?” tanya sang pemuda akhirnya.
“Masih sama dengan saat kita bertemu kemarin,” jawab sang gadis memecah kesunyian.
Diam. Hanya suara hembusan napas mereka yang terdengar.
“Kau baik-baik saja?” tanya sang gadis.
“Sebaik yang bisa kuharapkan,” jawab sang pemuda.
Diam lagi. Hanya suara detak jantung mereka yang terdengar.
“Dan kau masih tidak ingin menyembuhkan bekas lukamu?” tanya sang gadis lagi.
“Terkadang bekas luka itu bagus untuk kita. Bekas luka itu akan selalu menjadi pengingat pada apa yang telah kita lakukan, pada apa yang telah kita perjuangkan, pada apa yang telah kita pertahankan,” jawab sang pemuda tenang.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS