Disclaimer: I own nothing. All rights go to
J.K. Rowling and all her work.
Warnings: OOC parah, very cliché, alur cepet,
post-Hogwarts, dan segala bentuk keanehan lainnya.
Her Request
“Kau bercanda,
Granger,” kata Draco keras. Dia memandang Hermione dengan pandangan
tak percaya. Well, saat ini dia memang sedang agak
tidak mempercayai telinganya.
“Apa aku terlihat
sedang bercanda, Malfoy?” tanya Hermione dengan senyuman polos yang
Draco tahu—jauh sekali dari arti kata polos.
“Kau tidak mungkin
memintaku untuk—untuk—” Draco tidak tahu lagi harus mengatakan
apa. Jelas sekali, bukan hanya telinganya saja yang bermasalah,
tetapi bibirnya juga—mengingat dia tak pernah berbicara
terbata-bata seperti itu sebelumnya.
“Aku sudah
mengatakannya dengan sangat jelas, dan kau juga sudah mendengarnya
dengan sangat jelas. Tak ada alasan bagimu untuk mengatakan tidak,”
kata Hermione.
Draco mendengus. “Aku
tak mau melakukan itu. Dan jangan tanya kenapa, karena itu adalah hal
terkonyol yang pernah kau minta dariku. Kau tahu, aku tak bisa
membayangkan diriku mengganti p—”
“Jangan bilang kau
takut,” sela Hermione tak sabar.
“Ini bukan masalah
takut atau tidak takut, tetapi masalah harga diri,” kata Draco
semakin mendengus.
“Kau terlalu
mengada-ada,” kata Hermione kesal. “Ini sama sekali tidak ada
hubungannya dengan harga diri. Lagi pula aku hanya memintamu untuk
menjaganya selama beberapa hari, sementara aku mengunjungi beberapa
temanku di dunia Muggle untuk merayakan Hallowen tahun ini bersama
mereka.”
“Kenapa kau tidak
membawanya saja bersamamu?”
“Harus berapa kali
kukatakan kalau aku tidak bisa, Malfoy?”
“Well, kau bisa
membawanya ke tempat penitipan.”
Mata Hermione membelalak
lebar, dan Draco sempat berpikir bahwa gadis itu sedang memutuskan
mantra apa yang paling cocok untuk dilontarkan ke
arahnya. Pemuda itu sudah menyiapkan diri untuk menangkis
serangan mantra apa pun yang mungkin akan dilontarkan gadis itu,
ketika dia mendengar suara terbatuk dari arah tangga.
“Kuharap
kalian sedang tidak saling bertengkar lagi, Nak,” kata Narcissa
sambil tersenyum lebar. Wanita itu sedang berdiri di anak tangga
paling bawah, memperhatikan mereka dengan ekspresi geli yang terlihat
jelas di wajahnya.
“Mrs
Malfoy,” sapa Hermione terkejut. Dia tidak menyadari bahwa Narcissa
sudah berada di ruangan yang sama dengan mereka sejak tadi,
menyaksikan argumen kecil mereka—yang
sepertinya tidak akan mungkin bisa disebut kecil lagi, seandainya
saja wanita itu tidak berinisiatif untuk menginterupsi mereka saat
itu.
“Oh,
tidak, Bu,” kata Draco agak menyeringai. “Kami hanya sedang
sedikit saling bertukar pikiran. Itu saja. Benar kan, Granger?”
Belum
sempat Hermione menganggukkan kepalanya untuk mengiyakan kata-kata
Draco, Narcissa sudah kembali berkata, “Sedikit saling bertukar
pikiran dengan mengacungkan tongkat kalian masing-masing seperti
itu?”
Wajah
Hermione langsung merona ketika dia baru menyadari bahwa dia masih
mengacungkan tongkatnya ke arah Draco, siap untuk memantrai pemuda
itu dengan kutukan pertama yang terpikir di benaknya saat itu. Gadis
itu segera menurunkan tongkatnya sambil melemparkan pandangan
mematikan ke arah Draco, yang hanya membalas pandangannya dengan
seringai yang semakin lebar. Pemuda itu sudah menurunkan tongkatnya
sejak tadi, sejak dia mendengar suara ibunya yang menegur mereka. Dia
tidak mau mendapatkan ceramah panjang lebar dari ibunya, tentang
bagaimana cara bersikap yang baik pada seorang wanita, tentang
bagaimana seharusnya dia menghargai mereka, dan tidak seharusnya dia
berduel dengan mereka.
‘Yeah,
tentu saja. Mungkin seharusnya aku memang membiarkan diriku terkena
kutukan dari Granger. Dengan begitu, paling tidak aku jadi memiliki
alasan untuk menolak permintaan konyolnya itu. Aku bisa berpura-pura
sakit parah selama beberapa hari,’ pikir
Draco.
Dia
kembali memandang Hermione yang wajahnya masih merona, dan tidak bisa
menahan diri untuk tidak menyeringai sekali lagi. Dia tidak akan
pernah mengatakan atau mengakui hal ini pada siapa pun. Tetapi
sejujurnya, dia menyukai ekspresi wajah Hermione yang merona seperti
itu. Ekspresi itu membuat gadis itu terlihat seperti—well,
seperti seorang wanita.
‘Dia
memang seorang wanita, Draco. Kau idiot,’ kata
sebuah suara di dalam kepalanya.
‘Kau
belum pernah merasakan bagaimana rasanya ditonjok olehnya. Pukulannya
benar-benar keras, seperti seorang pria,’ kata
sebuah suara lain.
‘Tentu
saja aku pernah merasakannya. Aku juga bagian pikiranmu yang lain,
ingat?’
‘Oh,
diam kau. Kau membuatku gila.’
‘Kau
memang sudah gila, Draco.’
‘Bukankah
aku tadi sudah menyuruhmu untuk diam?’
‘Seharusnya
kau tahu bahwa berargumentasi dengan dua buah suara di dalam
pikiranmu adalah gejala awal dari kegilaan.’
“Oh,
diamlah kalian,” kata Draco keras.
Narcissa
mendengus. Wanita itu sudah duduk dengan anggun di sofa mewah yang
menghadap ke perapian, melemparkan pandangan mencela ke arahnya. Dan
Hermione sudah berada di sebelah wanita itu, memandangnya dengan
pandangan heran.
“Cara
yang sangat sopan untuk berbicara dengan ibumu, Draco,” cela
Narcissa. “Aku hanya sedang bertanya hal apa yang sedang kalian
debatkan hingga kalian perlu mengacungkan tongkat untuk bertukar
mantra seperti itu. Dan Draco, sudah berapa kali kukatakan, tidak
seharusnya kau mengacungkan tongkatmu kepada Hermione seperti yang
kau lakukan tadi.”
Draco
merasa kepalanya mulai berdenyut-denyut. Dia melemparkan tubuhnya di
sofa yang berada di dekatnya, menghadap ke arah ibunya dan Hermione.
Rupanya tadi ibunya sempat melihat dia mengangkat tongkatnya. Tetapi
tidak ada salahnya mempertahankan diri, kan? Dia mengangkat
tongkatnya hanya untuk menangkis serangan mantra kutukan Hermione,
bukan untuk membalas mantra kutukan itu. Siapa yang tahu, mantra
buruk apa yang bisa dilemparkan gadis itu kepadanya? Jelas sekali,
dia tidak ingin dikejar ratusan burung kenari yang menyerang
kepalanya dan membuat tatanan rambutnya yang sempurna menjadi
berantakan seperti Harry Potter. Tidak akan pernah. Bahkan di dalam
mimpinya sekali pun, dia tidak akan pernah membiarkan hal itu
terjadi.
‘Mungkin
tadi tanpa kusadari Granger sempat meluncurkan mantra terbarunya yang
belum pernah dia ceritakan. Mantra ilusi kegilaan. Lihat saja,
pertama, aku sudah melakukan pembicaraan tak masuk akal di kepalaku.
Dan kedua, aku tidak bisa berkonsentrasi pada pembicaraan di
sekelilingku,’ pikir Draco lagi
sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Pikirannya
kembali terpusat pada keadaan di sekelilingnya ketika dia mendengar
suara Hermione yang berbicara dengan ibunya, menjelaskan alasan
perdebatan mereka tadi.
“Sebenarnya
ini bukan sepenuhnya kesalahan Malfoy. Aku yang memaksanya untuk
menjaga—”
“Kau
dengar itu, Bu? Dia yang memulainya terlebih dulu,” sela Draco.
“Berhenti
menyela pembicaraan orang lain, Draco,” kata Narcissa. “Kau akan
mendapat giliran berbicara setelah Hermione selesai menceritakan
semuanya.”
Draco
mendengus, sementara Hermione menyeringai dan mulai menceritakan awal
perdebatan mereka. Dia tidak tahu dari mana gadis itu bisa memiliki
seringai yang sangat mirip dengan seringai miliknya. Yang dia tahu,
seringai seperti miliknya hanya dimiliki oleh keturunan keluarga
Malfoy. Dan sepertinya dia sudah salah besar mengenai hal itu.
“Jadi,
Mrs Malfoy, apakah menurut Anda permintaan saya itu keterlaluan?”
tanya Hermione, memandang Narcissa dengan mata cokelatnya yang lebar,
memasang ekspresi polos.
‘Oh,
tidak. Tidak. Ini buruk, benar-benar buruk,’ pikir
Draco lagi. ‘Tidak dengan pandangan
mata itu, Granger. Tak akan ada yang mampu menolakmu dengan ekspresi
wajahmu yang seperti itu.’
‘Termasuk
kau sendiri, Draco. Akui saja, kau pun tidak akan mampu menolaknya.’
Belum
sempat Draco membalas suara pertama, dia sudah mendengar suara ibunya
yang menyetujui ide konyol Hermione dengan sangat antusias. Dan pada
saat itu, dia tahu bahwa dia sudah kalah dan seharusnya menyerah.
Tetapi tentu saja, bukan Draco Malfoy namanya jika dia tidak
melakukan tindakan kekanakan dan berteriak keras pada kedua wanita di
hadapannya.
“Aku
tak percaya kau lebih memihak Granger, Bu,” kata Draco, bangkit
dari sofanya. “Sejauh yang kuingat, akulah yang menjadi putramu.”
“Berhentilah
bersikap kekanakan, Draco. Tak ada salahnya kalau kau mulai belajar
untuk merawat se—”
“Kau
ingin melihatku menyiapkan makanan, membuang kotoran, dan mengganti
p—”
“Kau
membuatnya terdengar seolah itu adalah hal paling menjijikkan di
dunia, Malfoy,” seru Hermione sebal.
“Tentu
saja, Granger. Mungkin kau tidak tahu, tapi aku tak pernah melakukan
hal itu sebelumnya. Aku lebih memilih untuk tidak memakai produk
perawatan rambutku selama tiga hari daripada harus merawat makhluk
itu, sementara kau bersenang-senang merayakan Halloween bersama
teman-temanmu tanpa aku.”
Hermione
memutar bola matanya. “Jadi itu masalahnya? Kau merasa diabaikan
olehku? Tetapi bukankah kau sendiri yang beberapa hari lalu menolak
ajakanku untuk merayakan Halloween di dunia Muggle?”
Draco
terdiam selama beberapa saat. Dia baru ingat kalau Hermione sudah
mengajaknya untuk tinggal bersama kedua orangtua gadis itu selama
beberapa hari, dan merayakan Halloween di sana—bersama keluarga
besar dan teman-teman Muggle gadis itu. Dan dia memang menolaknya
dengan alasan dia tidak akan tahan hidup tanpa sihir, meskipun hanya
beberapa hari saja. Mereka memang sudah cukup umur untuk melakukan
sihir di luar dunia sihir. Tetapi tetap saja, dia tidak bisa
melakukan sihir seenaknya dengan adanya banyak Muggle di sekitar
mereka, kan?
Dan
sekarang Hermione menuduhnya bahwa alasannya untuk tidak mau
mengabulkan permintaan gadis itu adalah karena dia merasa diabaikan.
Dia mendengus. Yang benar saja.
“Kau
tahu bukan itu masalahnya, Granger,” kata Draco mengeretakkan
giginya. Dia sudah lupa kalau ibunya masih berada di ruangan itu.
“Jadi
apa masalahnya, Malfoy?” tanya Hermione dingin.
“Oh,
sudahlah,” kata Draco akhirnya. “Aku tak ingin membicarakan hal
ini lagi. Aku pergi.” Dan tanpa menunggu jawaban dari Hermione, dia
sudah menghilang di balik perapian, di antara kepulan asap
hijau—meninggalkan gadis itu yang
berteriak memanggil namanya agar dia kembali.
-o0o-
Rasanya
baru sedetik saja Draco merasakan pusaran Bubuk Floo di sekitarnya,
dan detik berikutnya, dia sudah berada di sebuah ruangan bercahaya
temaram. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan
diri dengan penerangan cahaya di ruangan itu. Beberapa saat kemudian,
dia mendapati dirinya terlonjak kaget ketika pintu dari arah
sebelahnya terbuka, menampilkan seseorang yang sepertinya baru saja
membersihkan diri—dilihat dari handuk
yang tergantung di leher orang itu, dan rambutnya yang masih basah.
“Draco?”
kata orang itu, tidak kalah terkejutnya. “Apa yang sedang kau
lakukan di kamarku?”
Draco yang
sudah berhasil mengatasi rasa keterkejutannya, hanya terdiam selama
beberapa saat. Dia memandangi orang itu, kemudian mengedarkan
pandangannya ke sekeliling ruangan yang agak sedikit gelap itu.
“Er,
Blaise, kau tidak sedang—” Draco
berhenti.
“Aku
sendiri, Draco. Tidak ada siapa-siapa di sini,” kata Blaise sambil
melemparkan tubuhnya ke kursi santai di sudut ruangan, dan mulai
mengeringkan kepalanya dengan handuk di lehernya.
Draco
menarik napas lega. Dia duduk di tepi ranjang, menghadap Blaise, yang
saat itu sudah memegang segelas Wiski Api di salah satu tangannya.
“Kenapa
kau mematikan lampu kamarmu?” tanya Draco, mengerutkan keningnya.
Blaise
hanya mengangkat bahunya. “Tak apa-apa,” dia menyesap sedikit
minuman yang ada di tangannya. “Trouble in paradise?”
tanya Blaise setelah mereka terdiam selama beberapa menit.
“Aku
tak mengerti kenapa kau menyebutnya sebagai ‘paradise’,
Blaise. Mengingat hal rutin yang kami lakukan setiap hari adalah
berdebat dan berargumen,” jawab Draco. Dia membaringkan tubuhnya,
dan meletakkan tangannya di bawah kepala, memandangi langit-langit
kamar.
Blaise
tidak berkomentar apa pun. Dia hanya menaikkan alisnya dan menyesap
minumannya lagi. Memang suatu keajaiban, hubungan sahabatnya dengan
Nona-Tahu-Segala itu bisa bertahan sampai sejauh ini. Seperti yang
Draco katakan tadi, tak ada hal lain yang mereka lakukan selain
bertengkar, bahkan untuk masalah yang menurutnya sangat kecil sekali
pun—seperti misalnya bagaimana mereka
akan menghabiskan akhir pekan mereka. Hermione ingin pergi ke satu
tempat, dan Draco ingin pergi ke satu tempat lain yang bisa
dipastikan selalu berlawanan arah dengan keinginan gadis itu. Dan
sudah bisa ditebak, mereka akan menghabiskan akhir pekan mereka
secara terpisah. Tetapi entah bagaimana, keesokan harinya mereka
sudah bersikap normal lagi, seperti pasangan lain pada umumnya. Dan
mereka bahkan masih memanggil satu sama lain dengan nama keluarga
masing-masing, dan bukannya dengan nama depan mereka. Benar-benar
suatu misteri.
“Dan
sejauh yang kutahu, kalian masih bertahan hingga sekarang,” kata
Blaise. “No offense,
tapi aku pernah bertaruh dengan Theo bahwa hubungan kalian tak akan
bertahan hingga melebihi satu minggu.”
Draco
menyeringai. “None taken, mate. Well, kurasa hubungan yang
sempurna itu bukanlah hubungan yang tak pernah menemui masalah dan
tak pernah bertengkar satu sama lain. Tetapi hubungan yang sering
menemui banyak masalah, berbeda pendapat, bertengkar, dan tetap masih
bisa bertahan karena dengan cara itulah mereka saling mengenal satu
sama lain.”
Dan pada
saat itulah, Blaise tersedak minumannya. Dia terbatuk, kemudian
menepuk-nepuk dadanya sebelum kembali menemukan suaranya, dan
berbicara dengan nada tak percaya. “Kau benar-benar Draco Malfoy,
kan?”
“Apa
yang membuatmu berpikir aku adalah orang lain?”
Blaise
menggelengkan kepalanya. “Lupakan saja. Jadi apa masalahnya
sekarang?”
Draco
menghela napas panjang. Kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya masalah
mereka hanya satu: kekeras kepalaan mereka. Mungkin mereka tidak akan
pernah bertengkar kalau saja Hermione tidak begitu keras kepala dan
selalu berada di tempat yang berseberangan dengan dirinya. Tetapi
jika tidak begitu, mungkin dia juga tidak akan pernah menganggap
Hermione sebagai gadis yang berbeda dengan gadis-gadis lain yang
ditemuinya. Dan perbedaan itulah yang membuatnya menjadi seorang
Hermione Granger. Dia tidak pernah mengatakan bahwa gadis itu adalah
gadis paling cantik, atau paling populer, atau paling sempurna yang
pernah ditemuinya. Hermione hanya—seorang
gadis yang memiliki keunikan dengan caranya sendiri. Itu saja.
“Lebih
baik aku kembali. Kita bicarakan ini nanti,” kata Draco sambil
bangkit berdiri.
“Terserah
kau saja,” kata Blaise tanpa minat. Mungkin dia harus mulai belajar
tentang bagaimana bersikap dalam menghadapi Draco yang baru
ini.
-o0o-
Beberapa
hari sudah berlalu sejak Draco meninggalkan Hermione bersama ibunya
di depan perapian. Dan saat ini, dia sedang duduk di depan meja di
kamarnya, mengetuk-ngetukkan pena bulunya sambil berpikir keras. Dia
sudah memutuskan untuk tidak menghubungi Hermione sebelum gadis itu
menghubunginya terlebih dulu—suatu
keputusan yang agak disesalinya. Meski bagaimana pun, dia yang
meninggalkan gadis itu, dan seharusnya dialah yang menghubungi gadis
itu dan meminta maaf terlebih dulu. Tetapi egonya memang sudah
terlalu tinggi, dan bahkan ibunya sendiri pun tidak bisa berbuat
apa-apa mengenai hal itu.
Dia
menggaruk kepalanya yang tidak gatal, memandang ke luar jendela,
menatap sekumpulan bintang yang berpendar di sana. Dia masih
memandangi langit ketika cahaya bintang-bintang itu terhalangi oleh
bayangan besar. Bayangan itu semakin membesar, dan akhirnya mendarat
di depan jendela kamarnya. Secara refleks, dia menyambar tongkatnya
dan membuka jendela, membiarkan bayangan yang ternyata dua ekor
burung hantu itu masuk ke dalam kamarnya, dan hinggap di ranjangnya.
Dia
mengerutkan keningnya sebelum berjalan menghampiri dua ekor burung
hantu itu. Dia tidak pernah melihat mereka sebelumnya, dan dia sama
sekali tidak bisa menebak apa yang dibawa oleh kedua ekor burung
hantu itu. Dengan agak ragu, dia membuka ikatan surat dan kotak besar
yang isinya bergoyang-goyang dari kaki kedua ekor burung hantu itu.
Dan mereka segera terbang ke luar jendela begitu ikatan kaki mereka
dilepas. Jelas sekali, si pengirim surat dan kotak itu tidak
mengharapkan balasan surat darinya pada saat itu juga.
Draco
memegang surat itu, dan membaca namanya yang tertulis dengan sangat
rapi di amplopnya. Dia tersenyum kecil. “Granger,” bisiknya.
Tetapi senyumnya segera memudar, bahkan menghilang ketika dia membaca
isi surat itu:
Malfoy,
Saat kau
membaca surat ini, aku sudah berada jauh di dunia Muggle. Dan
meskipun aku tahu kau bisa menemukanku kapan saja kau mau, aku yakin
bahwa kau tak akan pernah repot-repot mencariku di sana. Benar? Ya,
tentu saja. Aku memang selalu benar.
Tapi
bukan hal itu yang ingin kukatakan padamu. Sama sekali bukan itu.
Jadi abaikan saja satu kalimat terakhirku tadi, oke? Well, seperti
yang sudah kukatakan dengan sangat jelas dan sudah kau dengar dengan
sangat jelas juga (aku memang mengutip pembicaraan kita beberapa hari
yang lalu di rumahmu), kau tetap harus mau mengabulkan permintaanku
untuk bulan ini.
Sesuai
perjanjian kita, setiap bulan, kau dan aku boleh meminta satu
permintaan satu sama lain, dan yang satu harus mengabulkan permintaan
yang lain. Dan aku ingat betul bahwa aku belum pernah meminta apa pun
padamu selama satu bulan ini, kan? Kau sudah memintaku untuk
menemanimu terbang selama hampir satu hari penuh saat kau marah
padaku karena masalah jubah favoritmu itu—yang
sama sekali bukan kesalahanku, mengingat Crookshanks-lah yang
merobeknya. Dan kau seharusnya tahu bahwa aku tidak pernah bersahabat
baik dengan ketinggian.
Jadi
kupikir aku akan menggunakan satu permintaanku untuk bulan ini: “Jaga
Crookshanks”. Kau cukup memberinya makan dua kali sehari, dia bisa
mencari makanannya sendiri. Dan jangan lupa ganti pasir tempat buang
airnya setiap hari, Malfoy. Dan oh ya, sekadar peringatan, jangan
pernah berpikir untuk meminta peri-rumah melakukan tugas ini.
Well,
ya, kurasa itu saja. Kalau ada yang perlu kau tanyakan, jangan ragu
untuk mengirimkan surat untukku. Oke?
Happy
Halloween
Draco
mendengus keras ketika dia sudah selesai membaca surat itu. Dia bisa
membayangkan wajah Hermione yang menyeringai puas ketika menulis
surat itu. Dia melewatkan beberapa hari ini berdebat dengan dirinya
sendiri tentang bagaimana caranya dia bisa meminta maaf tanpa
terkesan sedang meminta maaf pada gadis itu, sementara gadis itu
melewatkan beberapa harinya dengan memikirkan cara yang paling tepat
untuk membuatnya tidak bisa menolak permintaannya untuk menjaga
kucing peliharaannya—yang sepertinya
memiliki obsesi tidak sehat pada jubah-jubah di lemari pakaiannya.
Dan gadis itu berhasil. Sangat Slytherin sekali. Mungkin seharusnya
dia merasa bangga pada Hermione.
Dia
menunduk untuk membaca dua kalimat terakhir di bawah surat itu, dan
dengusannya semakin keras:
P.S:
Kunci lemari pakaianmu kalau kau tidak ingin jubahmu habis.
Hermione
bahkan tidak menuliskan satu kata “maaf”pun di dalam surat itu.
Dan setelah semua hal yang dilakukan gadis itu padanya, dia masih
bisa menandatangani suratnya dengan kata, ‘The love of your
life, Granger.’
Benar-benar
tidak bisa dipercaya.
Draco
meremas surat itu sebelum melemparkannya ke perapian. Dan dengan
wajah masam, dia membuka kotak besar yang bergoyang-goyang sejak tadi
di atas ranjangnya, mengeluarkan seekor kucing berbulu jingga tebal
dan berwajah gepeng aneh. Kucing itu memandangnya dengan pandangan
angkuh sebelum menguap lebar, meregangkan tubuhnya, dan meloncat
turun dari atas ranjang.
“Oh,
kau akan membayar mahal semua ini bulan depan, Granger. Tunggu saja,”
gumam Draco. Dia sudah mulai memikirkan berbagai cara untuk membalas
perbuatan Hermione padanya.
Demi
Merlin! Apa yang sebenarnya ada dalam pikiran gadis itu? Memintanya
untuk mengganti pasir kotoran kucing? Memangnya dia pikir siapa
dirinya?
“Dan
kau,” Draco melotot pada Crookshanks. “Jaga sikapmu, atau kau
harus berdiet sampai Granger kembali.”
Dan dia
mengatakan hal itu, seolah kucing itu bisa mengerti kata-katanya. Dan
mungkin memang benar begitu. Crookshanks bukan sekadar kucing biasa,
kan?
-END-







0 komentar:
Posting Komentar