Disclaimer: I do not own anything, J.K. Rowling does.
Warnings: Super OOC parah, very cliché, cheesy, sappy, post-Hogwarts.
Pairing: Draco Malfoy – Hermione Granger
Genre: Romance & Drama
Rated: T
III
5 tahun kemudian…
“Seperti yang sudah saya katakan sejak awal, Anda baik-baik saja, Ma’am. Saya tidak mengerti kenapa Anda merasa harus memaksa saya untuk memeriksa kondisi kesehatan Anda,” kata seorang healer setengah baya dengan sangat sabar.
“Oh, tapi Mr Worth, aku benar-benar merasa tidak enak badan selama beberapa hari terakhir ini,” kata seorang wanita berambut pirang yang masih terlihat sangat cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi.
“Saya rasa tidak ada yang perlu dicemaskan sama sekali, Ma’am. Anda berada dalam kondisi sangat sehat. Saya tidak menemukan gejala-gejala penyakit berbahaya seperti yang Anda katakan tadi.”
“Tapi Mr Worth, seharusnya kau―”
Draco memutar bola matanya. Dia sedang berlatih untuk mulai membiasakan dirinya dengan hobi ibunya yang baru―mengunjungi St Mungo hampir setiap beberapa hari dan memaksa healer-healer di sana untuk memeriksa kondisi kesehatannya. Draco mendengus. Sebenarnya dia sama sekali tidak merasa keberatan dengan hobi baru ibunya itu, dan satu-satunya hal yang membuatnya merasa kesal adalah karena ibunya itu selalu menemukan cara untuk membuatnya mau menemani wanita itu ke rumah sakit.
Seperti dia tidak memiliki kegiatan lain yang lebih berguna saja. Dia mulai mengutuki kebodohannya sendiri ketika dia teringat pada tindakannya yang begitu bodoh beberapa minggu lalu. Dia pergi ke Kementrian Sihir Prancis―kementrian tempat dia tinggal selama lima tahun terakhir ini―di tengah malam buta dan memaksa mereka memberinya ijin untuk menggunakan portkey agar dia bisa kembali ke Inggris malam itu juga. Dia baru saja menerima surat dari ibunya yang mengatakan bahwa wanita itu sedang sakit keras dan berada dalam kondisi yang kritis. Draco yang saat itu masih menggunakan piayama tidurnya, segera pergi tanpa pikir panjang lagi. Dia bahkan tidak sempat berganti pakaian terlebih dulu.
Dan apa yang dilihatnya begitu dia sampai di Malfoy Manor? Ibunya sedang duduk dengan sangat manisnya di ruang keluarga mereka sambil membaca Witch Weekly dengan secangkir teh panas serta sepiring biskuit berada di meja di hadapan wanita itu. Tak ada tanda-tanda kalau wanita itu sedang sakit keras, apa lagi kritis. Ibunya terlihat baik-baik saja, bahkan terlihat jauh lebih muda dan lebih segar dibanding beberapa tahun yang lalu ketika dia masih bersekolah di Hogwarts.
Draco merasa ingin mencopot kepalanya yang berdenyut-denyut frustrasi ketika melihat ibunya tersenyum manis dengan ekspresi polos dan tanpa merasa bersalah sedikit pun padanya. Ibunya sudah berhasil membohonginya. Dan dia menganggap dirinya adalah pembohong paling hebat yang pernah ada. Ironis sekali. Tapi paling tidak, sekarang dia tahu dari mana dia mendapatkan bakat istimewanya itu―dari ibunya, tentu saja.
Dan sejak hari itu, penderitaan hidupnya dimulai. Ibunya tidak mengijinkannya untuk kembali ke Prancis dengan alasan apa pun. Wanita itu memaksanya untuk tetap tinggal bersamanya, dan dia tidak bisa menolak permintaan wanita itu. Sekarang dia sudah memiliki kegiatan harian tetap―menemani ibunya pergi ke mana pun wanita itu mengajaknya. Dia bahkan harus mau menemani ibunya pergi ke salon kecantikan hanya untuk duduk dengan bosan selama berjam-jam di sana, sementara wanita-wanita lain di sekitarnya terkikik menyebalkan dan memandanginya dengan penuh minat seakan dia adalah makhluk aneh yang berasal dari planet lain.
“Ya, kan, Draco?” tanya ibunya tiba-tiba, mengalihkan semua pikirannya.
Draco yang sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh ibunya, hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. “Yeah, ibu. Tentu saja,” katanya tak peduli. Hidupnya akan terasa jauh lebih mudah kalau dia menyetujui saja semua perkataan ibunya.
Dia mengalihkan pandangannya ke luar jendela, ke arah taman rumah sakit. Saat itu adalah musim semi, bunga-bunga berwarna cerah mulai bermekaran, memenuhi taman itu. Dia menghela napas panjang dan memutuskan untuk keluar ruangan. Argumen antara ibunya dan healer itu selalu memakan waktu yang lama. Ibunya akan bersikeras bahwa dia sudah terserang penyakit berbahaya, sementara healer itu akan bersikeras mengatakan bahwa wanita itu baik-baik saja.
“Aku keluar sebentar,” katanya singkat.
Beberapa menit kemudian, Draco mendapati dirinya sudah berada di lorong-lorong rumah sakit, berjalan tanpa arah. Dia tidak memiliki tujuan sama sekali. Tetapi dia terus berjalan, melewati bangsal-bangsal yang ditempati oleh orang-orang dengan berbagai penyakit ajaib mereka. Dia meringis, rumah sakit bukanlah salah satu tempat favoritnya. Tempat itu terlalu bersih untuk seleranya, dan selalu dipenuhi oleh bau obat-obatan yang tidak enak dan menyengat hidungnya. Belum lagi ditambah dengan para penghuninya yang terkadang menjerit kesakitan, membuatnya merasa sangat tidak nyaman. Dia bukan tipe orang yang suka melihat orang lain menderita seperti itu. Tetapi dia juga bukan tipe orang yang suka bersimpati pada orang lain. Dia tidak bisa selalu bersikap baik dan menjadi dewa penolong bagi orang lain. Dia juga bukan penghibur yang baik seperti beberapa orang yang pernah dikenalnya, orang-orang seperti Hermione Granger.
Hermione Granger. Nama itu kembali terngiang di telinganya. Dia menghela napas panjang, baru menyadari kalau lorong tempatnya berdiri saat itu terlihat jauh berbeda dengan lorong-lorong di bagian rumah sakit yang lain. Lorong itu terlihat lebih cerah, dicat dengan warna-warna pastel yang tidak terlihat begitu mencolok. Dia menghampiri salah satu kursi duduk yang ada di sudut lorong, duduk, dan menyandarkan tubuhnya dengan santai sambil memejamkan matanya.
Dia tidak tahu alasannya, tetapi dia merasakan ketenangan yang sudah lama tak dirasakannya di tempat itu. Suasana di tempat itu mengingatkannya akan sesuatu, sesuatu yang dia sendiri tidak tahu apa, tetapi terasa begitu familiar. Dia mengerutkan dahinya, memperhatikan keadaan sekelilingnya. Dia cukup yakin kalau dia tidak pernah pergi ke tempat itu sebelumnya, bangunan itu sepertinya belum lama dibangun, jadi tidak ada kemungkinan sama sekali dia pernah berada di sana sebelumnya, tetapi rasanya seperti―
“Mummy!” teriak seorang anak perempuan kecil dari arah lorong, mengejutkannya.
Dia mendengus. Seharusnya rumah sakit adalah tempat untuk merawat orang-orang sakit, dan orang-orang sakit itu membutuhkan suasana yang tenang dan tidak berisik. Tetapi mengapa mereka membiarkan seorang anak berlarian di sepanjang lorong dan berteriak-teriak memanggil ibunya? Tidakkah hal itu bisa mengganggu pasien-pasien lain yang perlu beristirahat? Dan di mana orang tua anak itu? Seharusnya mereka lebih bertanggung jawab dengan tidak membiarkan anak mereka pergi sendirian seperti itu. Dia jelas tidak akan membiarkan anaknya―kalau dia memilikinya sendiri suatu hari nanti―bersikap seperti itu.
Tanpa disadarinya, dia sudah memperhatikan anak perempuan kecil itu selama beberapa menit terakhir tanpa berkedip. Dia tak tahu bagaimana pikiran tentang memiliki seorang anak bisa terlintas begitu saja di pikirannya ketika dia melihat anak itu. Dia mengerutkan dahinya, sepertinya dia pernah melihat anak itu entah di mana.
Anak kecil itu berlari pelan melewatinya. Rambut ikalnya terurai menutupi sebagian wajahnya yang bulat. Kelihatannya dia tipe anak yang selalu ceria. Anak kecil itu terus berlari sebelum menghilang ke dalam sebuah ruangan yang berada di ujung lorong. Draco bisa mendengar suara kerasnya yang berteriak memanggil ibunya lagi.
Dan Draco bisa mengerti kenapa anak kecil itu diperbolehkan untuk berkeliaran sendiri di tempat itu. Dari tempatnya duduk, dia bisa melihat kalau anak kecil itu baru saja memasuki ruangan kepala healer di rumah sakit bagian itu. Jelas sekali bahwa anak itu adalah putri dari kepala healer itu sendiri.
Dia mendesah. Anak yang menggemaskan, pikirnya tanpa sadar. Dia menggelengkan kepalanya, tidak mengerti mengapa dia bisa berpikir bahwa anak yang terlalu aktif seperti itu bisa dikategorikan sebagai anak yang menggemaskan. Sepertinya sebutan anak yang menyebalkan akan jauh lebih pantas untuk digunakan untuk menyebut anak itu.
Dia bangkit dari posisi duduknya, tiba-tiba saja merasa perlu melihat siapa ibu dari anak kecil itu. Dan dia bahkan tidak tahu alasannya. Ini pertama kalinya ada seorang anak yang bisa menarik perhatiannya seperti itu. Dia berjalan menghampiri pintu ruangan itu yang agak sedikit terbuka, dan melihat ke dalamnya.
Anak kecil itu berdiri di hadapan seorang wanita yang sedang membungkuk untuk mengecup pipinya. Draco tidak bisa melihat wanita itu, karena wanita itu membelakanginya. Dia memperhatikan postur tubuh wanita itu, dan segera bisa menyimpulkan kalau wanita itu bertubuh mungil―mungkin tingginya hanya mencapai dagunya saja. Dan rambutnya―dia terpana ketika melihat rambut cokelat ikal itu. Pasti ada yang salah dengan alat penglihatannya.
“Sayang, harus berapa kali Mummy katakan agar kau tidak berteriak-teriak di sepanjang lorong seperti itu?” kata suara seorang wanita dengan lembut.
Draco tersentak ketika dia mendengar suara itu. Dia memang sudah bertahun-tahun tidak mendengarnya, tetapi dia tahu bahwa dia akan selalu mengenalinya kapan pun dan di mana pun.
“Maaf, Mummy,” jawab anak kecil itu riang, tidak terlihat menyesal sama sekali.
“Di mana Daddy-mu? Seharusnya dia tidak membiarkanmu pergi sendirian ke sini,” kata wanita itu sambil menolehkan kepalanya ke arah pintu.
Draco yang sepertinya sudah tahu bahwa wanita itu akan menolehkan kepalanya ke arah pintu, segera menyembunyikan diri sejak pertama kali dia mendengar suara wanita itu berbicara. Tidak ada yang salah dengan alat penglihatan dan pendengarannya. Wanita itu memang benar-benar Hermione Granger. Dan sekarang dia sudah memiliki seorang putri. Putri kecil yang menggemaskan. Dan itu hanya berarti satu hal, wanita itu sudah memiliki seseorang dalam hidupnya.
“Aku di sini, Hermione,” jawab seorang pria sambil nyengir lebar. Pria itu menghampiri Hermione dan memeluknya.
“Daddy!” panggil anak kecil itu sambil melompat riang menghampiri ayahnya.
“Jangan ribut, Sayang,” kata Hermione sabar.
“Yeah, Anna. Dengarkan ibumu. Kau bisa mengganggu pasien-pasien kecil ibumu dengan suaramu yang merdu itu,” kata pria itu nyengir semakin lebar.
“Kuharap kau tidak sedang menyindirku, Harry,” kata Hermione sambil memutar bola matanya.
“Kau Healer Anak, Hermione. Dan pasienmu memang anak-anak kecil, kan?”
Hermione memutar bola matanya lagi, mengabaikan kata-kata Harry dan menoleh ke anak kecil itu. “Kau siap pergi, Sayang?”
“Tentu, Mummy. Siang ini aku ingin pelgi ke tempat kemalin,” jawab anak itu cadel.
“Kita sudah pergi ke tempat itu hampir setiap hari sepanjang minggu ini, Anna,” kata Harry mengeluh.
“Tapi, Daddy, aku―” rengek anak kecil itu.
“Baik, baik. Kita ke sana,” sela Harry menyerah. Dia merasa tidak sanggup kalau harus menghadapi rengekan Anna. Putrinya itu selalu bisa bersikap manis, tetapi terkadang dia juga bisa sangat keras kepala. Anak itu selalu memiliki cara untuk mendapatkan apa yang dia mau. Dan dia harus mengakui kalau semua itu adalah kesalahannya sendiri. Dia terlalu memanjakan anak itu. Tetapi memangnya apa yang bisa dia lakukan untuk membuat anak itu agar selalu merasa gembira mengingat dia tidak memiliki seorang―
“Harry!” panggil Hermione, melambai-lambaikan tangannya di hadapan wajah pria itu.
Harry tersentak kaget. Tanpa disadarinya, dia sudah melamun selama beberapa saat tadi. “Ya, Hermione?” jawabnya nyengir.
Hermione mengerutkan dahinya. “Kau tidak sedang memikirkan―”
“Tidak, Hermione,” kata Harry cepat. “Kita pergi sekarang?”
Hermione menghela napas panjang dan mengangguk. “Oke.” Dia menoleh pada Anna, mengulurkan tangannya untuk menuntun anak itu. “Ayo, Sayang.”
Dan mereka semua pun melangkah keluar dari ruangan itu, meninggalkan Draco yang masih berdiri membeku di tempat persembunyiannya. Dia masih berdiri diam selama beberapa menit berikutnya, memperhatikan keluarga kecil itu berjalan menjauh dari tempat itu sambil bergandengan tangan dan tertawa bahagia. Sesekali dia akan melihat anak kecil itu berjalan sambil melompat-lompat kecil dengan lincahnya. Sepertinya anak itu memang selalu ceria dan bersemangat. Yeah, tentu saja. Anak kecil mana yang tidak merasa bahagia ketika berada di tengah-tengah keluarga yang begitu menyayanginya seperti itu?
“Dia berbahagia,” kata Draco pada dirinya sendiri sebelum pergi meninggalkan tempat itu dan kembali ke ruangan Healer Worth untuk menghampiri ibunya yang sudah menunggunya sejak tadi.
Dia berbahagia.







2 komentar:
Kaakaak!!! Kenapa otakku ini berpikiran bahwa Anna itu anaknya Draco. Kenapaaaa?? #plak Ini belom fin kan kak? Belom kan?
-Infa-
Kakaaaa! Kok Mione sama Harry???! Draconya dikemanakan??? Draconya sama aku aja ya :p Huehehehehe...
Okee, ditungguuu yaaaaa lanjutannyaaaaaa *bakar menyan*
Posting Komentar