RSS
Post Icon

Time After Time

Disclaimer: I do not own anything, J.K. Rowling does.
Warnings: Super OOC parah, gaje, sappy, cheesy, post-Hogwarts.
Pairing: Draco Malfoy – Hermione Granger
Genre: Romance & Drama
Rated: T

Time After Time

Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam, dan Draco Malfoy masih terjaga. Sejak tadi dia hanya berbaring di atas tempat tidurnya, tidak melakukan apa-apa. Dia menghela napas panjang, mengedarkan pandangan ke sekeliling kamarnya yang terasa sangat sepi dan gelap, mencari-cari sesuatu yang bisa mengalihkan perhatiannya dari suasana yang terasa sangat tidak nyaman itu. Dan pandangannya berhenti pada sebuah foto besar yang tergantung di salah satu dinding kamarnya. Fotonya bersama seorang wanita cantik mengenakan gaun putih panjang―foto pernikahannya.
Dia tersenyum ketika dia mengingat hari yang menurutnya adalah hari paling membahagiakan dalam hidupnya. Semuanya masih terekam dengan sangat jelas di kepalanya, dan dia memang tidak akan pernah melupakannya. Tepat lima tahun yang lalu, pada tanggal yang sama dengan hari ini―dia berdiri di depan altar dengan gelisah, menunggu calon istrinya yang sudah memutuskan untuk menyiksanya dengan sengaja berlama-lama berada di ruang rias, sementara Harry dan Blaise tak henti-hentinya mengatakan hal-hal yang hanya membuat kegelisahannya semakin bertambah. Dan setelah beberapa menit yang terasa seperti berabad-abad baginya, akhirnya dia mendengar musik itu. Musik paling indah yang pernah dia dengar dalam hidupnya―mars pernikahan.
Dia mengangkat kepalanya dan memandang ke ujung lorong, dan dia bersumpah kalau pada saat itu jantungnya sudah berhenti berdetak ketika melihat calon istrinya berjalan dengan sangat anggun, menuju ke arahnya. Senyum lebar mengembang di wajah wanita itu, dan dia yakin sekali kalau pada saat itu wajahnya juga memiliki ekspresi yang sama dengan wanita itu.
Setelah itu, semuanya berjalan dengan sangat baik dan normal. Bahkan bisa disebut sempurna. Mereka menjalani hidup mereka dengan tenang. Tidak ada perang, dan tidak ada permusuhan. Semua orang sudah menjalin hubungan baik satu sama lain. Dan dia bahkan berteman dekat dengan Harry dan Ron.
Ya, Harry Potter dan Ronald Weasley. Ketika dia masih bersekolah di Hogwarts, dia pasti akan tertawa keras-keras kalau ada seseorang yang mengatakan bahwa dia akan berteman dekat dengan kedua Gryffindor itu. Tetapi lihat apa yang terjadi sekarang, dia berteman dekat dengan mereka―sama seperti dia berteman dekat dengan Blaise dan Theo. Memang ada begitu banyak hal yang berubah selama ini. Kejatuhan Voldemort telah membawa perubahan yang begitu drastis pada dunia sihir. Perubahan yang lebih baik, tentu saja. Dan dia tidak bisa tidak merasa bahagia di setiap detik dalam hidupnya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

The Way It Is

Disclaimer: I do not own anything, J.K. Rowling does.
Warnings: OOC parah, aneh, gaje.
Pairing: Draco Malfoy – Hermione Granger
Genre: Romance
Rated: T

The Way It Is

Mereka selalu bertemu. Di tempat yang selalu sama, di waktu yang selalu sama.
Waktu saat bulan menggantikan posisi matahari, saat bintang bersinar di atas langit, saat binatang-binatang malam keluar dari persembunyian mereka, dan saat dunia terasa bagai mati bagi mata orang-orang yang terlelap.
Tak ada seorang pun yang mengetahui apa yang mereka lakukan, bahkan mereka sendiri pun tidak mengetahui mengapa dan bagaimana mereka melakukan itu.
Yang mereka tahu, mereka hanyalah dua manusia biasa yang dipertemukan oleh keadaan.
Keadaan? Bukankah akan jauh lebih tepat jika disebut takdir?
Baiklah, takdir kalau begitu. Takdir yang mempertemukan dua orang yang begitu berbeda, begitu bertolak belakang, tetapi begitu saling melengkapi.

-o0o-

Dan di tempat ini, saat ini, mereka bertemu kembali.
Berbaring bersisian di atas rerumputan basah, memandang langit malam yang cerah. Tanpa saling bertukar kata dan kalimat, seakan berada di dua tempat yang berbeda, dalam dua dimensi yang berbeda, tetapi dalam dunia yang sama.
“Bagaimana kabarmu?” tanya sang pemuda akhirnya.
“Masih sama dengan saat kita bertemu kemarin,” jawab sang gadis memecah kesunyian.
Diam. Hanya suara hembusan napas mereka yang terdengar.
“Kau baik-baik saja?” tanya sang gadis.
“Sebaik yang bisa kuharapkan,” jawab sang pemuda.
Diam lagi. Hanya suara detak jantung mereka yang terdengar.
“Dan kau masih tidak ingin menyembuhkan bekas lukamu?” tanya sang gadis lagi.
“Terkadang bekas luka itu bagus untuk kita. Bekas luka itu akan selalu menjadi pengingat pada apa yang telah kita lakukan, pada apa yang telah kita perjuangkan, pada apa yang telah kita pertahankan,” jawab sang pemuda tenang.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

Greatest Fear

Disclaimer: I do not own anything, J.K. Rowling does.
Warnings: OOC parah, cliché, gaje, sappy, cheesy lines.
Pairing: Draco Malfoy – Hermione Granger
Genre: Romance & Hurt/Comfort
Rated: T

Greatest Fear

Siang itu suasana di Aula Besar terlihat ramai seperti biasanya. Denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring, serta suara celoteh anak-anak memenuhi ruangan itu. Di beberapa bagian meja, terlihat beberapa anak yang sedang bercakap-cakap penuh semangat dengan teman yang duduk di sebelah atau di hadapan mereka. Dan di salah satu sudut meja Gryffindor, terlihat beberapa anak kelas tujuh yang duduk dengan gelisah sekaligus bergairah. Sore nanti mereka akan melaksanakan ujian praktek NEWT terakhir mereka, dan tak ada satu pun anak yang tidak menginginkan ujian mereka berakhir dengan baik.
Hermione menarik napas panjang, dia sudah menghabiskan waktunya selama beberapa minggu terakhir ini dengan belajar keras dan mempelajari semua mantra yang menurutnya akan sangat berguna nanti. Tetapi tetap saja, dia masih merasa kalau dia belum mempelajari semua hal yang perlu diketahuinya untuk menghadapi ujian terakhirnya hari itu. Dia sedang meminum jus labu kuningnya ketika seorang gadis berambut merah manyala menghampirinya, dan menyapanya dengan ceria.
“Hei, Hermione. Bagaimana persiapan ujian terakhirmu?” tanya Ginny. Gadis itu duduk di hadapan Hermione, dan mulai mengisi piringnya dengan makanan.
“Sempurna,” kata Harry. Dia nyengir pada Hermione yang memutar bola matanya.
“Yeah, dia sudah menghabiskan semua buku di perpustakaan, Gin,” sambung Ron.
Hermione tidak menjawab, dia hanya mendengus sebal. Kedua sahabatnya itu memang tidak pernah berhenti menggodanya tentang kecintaannya pada buku dan pengetahuan. Meskipun akhir-akhir ini dia sudah sedikit mengurangi intensitas belajarnya, mereka masih tetap suka menggodanya. Dan yang paling menyebalkan adalah, dia tidak bisa benar-benar marah pada mereka.
“Kudengar para penguji tidak lagi mengelompokkan nama-nama sesuai abjad dan memanggil mereka untuk melakukan ujian praktek di dalam kelas, tetapi mereka akan melakukan ujian itu di ruangan terbuka, dan anak-anak lain diperbolehkan untuk melihatnya. Benarkah begitu?” tanya Ginny lagi, mengabaikan jawaban Harry dan Ron. Dia mulai memakan makan siangnya.
“Ya, kau benar, Gin,” jawab Hermione singkat.
“Dan menurut pendapatku, itu akan sangat mengerikan,” kata Ron. “Maksudku, bagaimana kalau aku melakukan perbuatan konyol dan semua anak melihatnya, lalu menertawakannya?”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

Obsession

Disclaimer: I do not own anything, J.K. Rowling does.
Warnings: OOC parah, aneh, gaje.
Pairing: Draco Malfoy – Hermione Granger
Genre: Romance & Suspense
Rated: T

Obsession

Darah-lumpur adalah suatu hal yang sangat misterius baginya. Selama ini dia selalu menganggap benar semua hal yang dikatakan oleh ayahnya tentang darah-lumpur. Dan dia percaya bahwa darah-lumpur adalah sesuatu yang menjijikkan, tidak berguna, dan sama sekali tidak berharga. Kedudukan mereka bahkan lebih rendah dari makhluk yang paling rendah sekali pun. Tetapi ketika dia bertemu dengan gadis itu―gadis darah-lumpur itu, semua hal yang selama ini dipercayainya runtuh begitu saja.
Dia mulai menyadari bahwa tidak semua hal yang dikatakan oleh ayahnya itu benar. Selama bertahun-tahun dia memperhatikan gadis itu, mencoba mencari kesalahan dan kekurangan dalam diri gadis itu. Tetapi dia hampir tidak pernah menemukannya.
Sejak tahun pertama mereka, gadis itu sudah membuktikan padanya bahwa dia salah. Gadis itu lebih pintar darinya, selalu mendapat nilai yang lebih baik darinya, dan bahkan lebih dihargai oleh teman-teman seangkatan mereka―kecuali Slytherin, tentu saja. Dia terus memperhatikan gadis itu hingga bertahun-tahun kemudian, dan tanpa disadarinya, dia sudah terobsesi pada gadis itu. Dia ingin memilikinya, dan dia sendiri tak mengetahui alasan yang pasti untuk itu. Yang dia tahu, dia hanya ingin memiliki gadis itu. Tanpa alasan.

-o0o-

Perang Besar sudah berakhir sejak beberapa bulan yang lalu. Pangeran Kegelapan telah berhasil dikalahkan oleh Harry Potter, The-Boy-Who-Lived. Hogwarts telah dibuka kembali, dan semua murid diperbolehkan untuk mengulang pendidikan mereka yang sempat terganggu karena adanya para Pelahap Maut yang menguasai Hogwarts.
Suasana di Hogwarts sekarang sudah benar-benar nyaman, sudah tidak ada ketegangan yang menyelimuti kastil itu lagi. Bahkan ketegangan antara murid Asrama Gryffindor dan Slytherin pun sudah banyak berkurang. Murid-murid dari kedua asrama itu sudah tidak pernah terlihat saling melemparkan ejekan dan hinaan lagi. Sepertinya persatuan antar-asrama yang selalu diinginkan oleh Profesor Dumbledore mulai terwujud.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

Why It Is

Disclaimer: I do not own anything, J.K. Rowling does.
Warnings: OOC parah, aneh, gaje.
Pairing: Draco Malfoy – Hermione Granger
Genre: Romance
Rated: T

Why It Is

Dia sering berkata padaku bahwa semua ini salah. Dan sesering itulah, aku tampak mengacuhkan dirinya.
Mungkin dia berpikir bahwa aku tak pernah mendengarkannya. Tetapi selalu adalah faktanya.
“Mungkin ini salah,” suatu waktu aku berkata begitu padanya, dengan senyum terhias di wajahku. “Tetapi siapa yang peduli? Karena sejujurnya, aku merasa bahagia.”
Dan aku tidak berbohong. Aku merasa bahagia. Kuharap dia juga merasa begitu.

-o0o-

Waktu berlalu dengan cepat. Perang Besar terjadi di tahun ketujuh kami. Aku masih mengingatnya dengan sangat jelas, dan memang aku tak akan pernah bisa melupakan hal besar seperti itu. Aku terkena kutukan hitam, menderita luka dalam, dan cukup parah.
Tetapi aku senang. Ya, senang.
Aku senang karena dengan aku terluka cukup parah, dia menjadi baik-baik saja. Tak bisa dipercaya. Karena aku, seorang Malfoy―untuk pertama kalinya dalam hidupku, telah berhasil mengalahkan egoku untuk melindungi diriku sendiri dan menyelamatkan orang lain.
Waktu memang dapat mengubah segalanya. Mungkin tidak dapat menyembuhkan tanpa bekas, tetapi dapat membantu untuk melupakan. Secara perlahan.
Dan semua yang kami lakukan, bersama, mungkin cukup tidak masuk akal. Kami musuh, ya. Dan tidak seharusnya seperti ini.
Tapi inilah yang terjadi. Dan kami benar-benar merasa bahagia dengan semua ini.

-o0o-

Malam menjelang, menggantikan siang. Membawa ketenangan bagi setiap orang.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

Unforgivable

Disclaimer: I do not own anything, J.K. Rowling does.
Warnings: OOC parah, cliché, gaje, character dead, post-Hogwarts.
Pairing: Draco Malfoy – Hermione Granger
Genre: Romance & Tragedy
Rated: T

Unforgivable

“Tak perlu segugup itu, Draco,” kata Blaise nyengir lebar. Dia sudah merasa geli melihat tingkah laku Draco yang tidak bisa berhenti berjalan hilir-mudik sejak tadi.
Draco berhenti berjalan, mengacak-acak rambutnya frustrasi. “Coba saja kalau kau yang berada di posisiku saat ini, Zabini,” desisnya.
“Zabini, eh?” Blaise terkekeh. Dia tahu betul, sahabatnya itu hanya akan memanggilnya dengan nama keluarganya kalau sedang merasa kesal. “Tenang saja, Draco. Dia pasti akan berkata ya.
“Kau yakin?” tanya Draco, wajahnya penuh harap.
Blaise mengerutkan dahinya, dia tak tahan untuk tidak menggoda Draco.
Well, mengingat bagaimana sikapmu terhadapnya selama enam tahun kita di Hogwarts, aku harus mengatakan bahwa aku sangat tidak yakin kalau dia akan langsung berkata ya.
“Menurutmu begitu?” tanya Draco lemas.
“Ya,” jawab Blaise, wajahnya terlihat sangat serius.
Wajah Draco memucat. Dia menghempaskan tubuhnya di kursi di sebelah Blaise, menarik napas panjang. “Aku tahu, ini memang ide yang benar-benar buruk,” katanya putus asa.
Blaise akhirnya tak tahan lagi, dia tertawa keras. Selama bertahun-tahun dia mengenal Draco, belum pernah dia melihat pemuda itu segugup ini. Menggelikan sekali rasanya melihat seorang Malfoy yang biasanya tenang dan tanpa emosi, tiba-tiba saja bertingkah seperti sekarang.
Ada yang lucu, Zabini?” tanya Draco dingin.
Blaise berhenti tertawa. Dia tahu di mana batas emosi Draco, dan sepertinya sekarang sudah bukan saat yang tepat lagi untuk menggoda pemuda itu. Dia menghela napas panjang.
“Santai saja, mate. Dia pasti akan berkata ya. Percayalah padaku.”
“Dan bagaimana kalau dia menolakku?”
“Antar dia pulang ke rumahnya, setelah itu beli Wiski-Api sebanyak yang kau mampu, dan aku akan menemanimu minum sepanjang malam. Lalu besok, aku akan mencarikan gadis lain untukmu.”
Draco melemparkan bantal duduk ke wajah Blaise. “Kau memang benar-benar menyebalkan.”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

How It Is

Disclaimer: I do not own anything, J.K. Rowling does.
Warnings: OOC parah, aneh, gaje.
Pairing: Draco Malfoy – Hermione Granger
Genre: Romance
Rated: T

How It Is

Aku sering berkata padanya bahwa semua ini salah. Dan sesering itulah, dia mengacuhkan diriku.
Kenapa bahkan aku pernah berpikir bahwa dia akan mendengarkanku?
“Mungkin ini salah,” suatu waktu dia berkata begitu padaku, dengan senyum terhias di wajahnya. “Tetapi siapa yang peduli? Karena sejujurnya, aku merasa bahagia.”
Dan memang begitu. Dia merasa bahagia. Begitu pun dengan diriku.

-o0o-

Waktu berlalu dengan cepat. Perang Besar terjadi di tahun ketujuh kami. Aku masih mengingatnya dengan sangat jelas, tetapi siapa yang bisa melupakan hal besar seperti itu? Aku berhasil bertahan hanya dengan beberapa luka kecil, tetapi dia tidak seberuntung itu. Dia terkena kutukan hitam, menderita luka dalam, dan cukup parah.
Tetapi dia baik-baik saja. Atau begitulah istilahnya.
Meskipun begitu, itu hanya istilah. Karena aku tahu, tak ada seorang pun yang akan baik-baik saja setelah itu. Ada hal-hal tertentu yang sama sekali tidak bisa disembuhkan. Hanya dapat terlupakan, secara perlahan. Oleh waktu.
Tetapi tidak, tidak bisa disembuhkan. Luka itu akan selalu ada di sana. Terpatri.
Dan semua yang kami lakukan, bersama, sangatlah tidak masuk akal. Ini adalah hal terbodoh yang pernah kami lakukan. Kami musuh. Dan tidak seharusnya seperti ini.
Tapi inilah yang terjadi. Dan kami benar-benar merasa bahagia dengan semua ini.

-o0o-

Malam menjelang, menggantikan siang. Kepekatan menyapa setiap orang.
Aku tidak pernah mengetahui dengan pasti apa yang membuatku selalu datang menemuinya, tetapi aku akan selalu menemukan diriku berada di sisinya setiap malam. Begitulah.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

Draco's Illness

Disclaimer: I do not own anything, J.K. Rowling does.
Warnings: OOC parah, cliché, gaje.
Pairing: Draco Malfoy – Hermione Granger
Genre: Romance & Humor
Rated: T

Draco’s Illness

Draco Malfoy berbaring telentang di atas tempat tidurnya, memandangi langit-langit kamarnya. Hari sudah menjelang pagi, tetapi matanya sama sekali tidak bisa dipejamkan. Dan dia mulai merasa kesal pada dirinya sendiri. Dia lelah, dia ingin tidur, tetapi matanya sama sekali tidak bisa diajak bekerja sama. Akhirnya dia menghela napas panjang dan menyerah. Dia bangkit dari tempat tidurnya, dan melangkah keluar kamar menuju kamar mandi.
Dia menatap cermin besar di atas wastafel, memperhatikan wajahnya. Wajah runcing pucat yang sama balik menatapnya di cermin. Tetapi ada beberapa hal yang berbeda di sana. Ada sedikit lingkaran hitam di sekitar matanya, dan dia berani bersumpah kalau dia melihat sedikit semburat kemerahan di sekitar pipinya. Dia meletakkan tangan di dadanya, dan dia yakin sekali kalau jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Dia juga menyadari kalau beberapa minggu belakangan ini dia menjadi tidak enak makan dan tidak enak tidur.
Oh, demi Salazar! Dia pasti sudah terserang penyakit berbahaya. Ya, pasti begitu. Tak ada penjelasan masuk akal lainnya. Seorang Malfoy tak pernah merona. Dia menghela napas panjang dan memutuskan bahwa dia harus segera pergi ke rumah sakit, sebelum penyakitnya semakin bertambah parah. Dan dia akan segera melakukan hal itu setelah dia mengikuti kelas terakhir hari ini.
Dia kembali memperhatikan wajahnya lagi, mencoba mencari tanda-tanda keanehan lain yang mungkin terlihat jelas di wajahnya. Tetapi belum sempat dia meneliti wajahnya lebih lanjut, terdengar suara ketukan pintu yang membuatnya mengerang kesal. Dia tahu betul siapa orang yang sudah mengganggunya sepagi ini.
“Apa maumu, Granger?” bentaknya, ketika dia sudah membuka pintu kamar mandi.
“Aku tidak mau apa-apa darimu, Malfoy,” balas Hermione tak kalah sengitnya.
“Kalau begitu enyahlah. Kau membuatku tak bisa berpikir jernih.” Dan memang benar begitu, dia sama sekali tidak sedang berbohong. Tiba-tiba saja dia merasa seperti ada kabut tebal yang menyelubungi otaknya.
“Bagaimana kalau kau saja yang mengenyahkan diri? Itu akan membuat hidupku terasa jauh lebih menyenangkan. Lagi pula, sejak kapan kau berpikir?” kata Hermione sarkastis.
“Tak bisakah kau pergi saja? Aku perlu menghirup udara segar. Aku selalu merasa sesak napas kalau kau berada di sekitarku.”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

Imperfection Is Beauty

Disclaimer: I do not own anything, J.K. Rowling does.
Warnings: OOC parah, aneh, gaje, sappy, cheesy.
Pairing: Draco Malfoy – Hermione Granger
Genre: Romance & Hurt/Comfort
Rated: T

Imperfection Is Beauty

Hermione Granger melangkahkan kakinya menyusuri koridor yang sudah sepi secepat mungkin. Dia melirik jam tangannya, dan jantungnya terasa berhenti berdetak. Dia semakin mempercepat langkahnya, setengah berlari. Akhirnya―setelah melewati tiga koridor berikutnya, dia sampai di ruang kelas tujuannya. Masih sedikit tersengal-sengal, dia membuka pintu kelas Transfigurasi yang terbuat dari kayu ek dan bergagang besi.
Suasana hening menyelimutinya ketika dia memasuki kelasnya. Beberapa anak menolehkan kepala mereka untuk melihat ke arahnya, dan dia merasa kakinya seperti dipaku di tempat. Setelah beberapa detik yang rasanya seperti berjam-jam, akhirnya dia memberanikan diri untuk membuka mulutnya. “Profesor McGonagall?”
“Miss Granger,” kata Profesor McGonagall kaku. Dia memandang Hermione dengan skeptis. Jelas sekali dia merasa sangat terganggu karena jam mengajarnya sudah diinterupsi oleh seorang murid yang datang terlambat―meskipun murid itu adalah Hermione Granger, yang boleh dikatakan adalah salah satu murid favoritnya.
“Maaf, Profesor. Pagi ini saya merasa sedikit tidak enak badan, dan saya pergi menemui Madam Pomfrey terlebih dahulu sebelum mengikuti kelas Anda. Tetapi ternyata Madam Pomfrey sedang sibuk merawat beberapa anak kelas satu yang sakit sehingga saya harus menunggu. Dan ketika saya sudah merasa lebih baik, saya baru menyadari kalau saya sudah terlambat untuk mengikuti kelas Anda,” kata Hermione cepat dalam satu tarikan napas.
Bibir Profesor McGonagall menipis, dan dia masih memandang Hermione dari balik lensa kacamata perseginya tanpa mengatakan apa-apa. Profesor McGonagall adalah salah satu guru di Hogwarts yang sangat terkenal akan kedisiplinannya. Dan tak ada satu pun penghuni Hogwarts yang tidak mengetahui hal itu.
Hermione menundukkan kepalanya, mengamati lantai―benar-benar berharap lantai itu akan membelah terbuka dan menelannya. Dia merasa sangat malu. Sepanjang kariernya sebagai murid di Hogwarts selama tujuh tahun, belum pernah sekali pun dia terlambat masuk kelas. Apa lagi kelas Transfigurasi, kelas favoritnya. Dia selalu datang tepat waktu, bahkan boleh dikatakan selalu yang datang paling awal di antara teman-temannya. Sempurna.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

She's All That You Need

Disclaimer: I do not own anything, J.K. Rowling does.
Warnings: OOC parah, aneh, gaje, seventh year, post-war.
Pairing: Draco Malfoy – Hermione Granger
Genre: Romance & Friendship
Rated: T

She’s All That You Need

Draco Malfoy menghela napas panjang. Dia baru saja menyelesaikan tugas patrolinya malam itu. Patroli―kegiatan yang menurutnya tidak berguna sama sekali, hanya suatu bentuk lain untuk menghabiskan waktu dan tenaga dengan sia-sia. Memangnya siapa yang begitu idiot sampai melakukan tindakan bodoh seperti menyelinap keluar asrama dan melanggar jam malam? Bahkan dia berani bertaruh, Crabbe dan Goyle pun tak akan pernah melakukan tindakan setolol itu. Lagi pula, bukankah sudah ada Filch dan kucing sialannya itu―Mrs Norris―yang sudah dibayar oleh Dumbledore untuk mengawasi dan menghukum murid-murid Hogwarts yang sudah ‘memutuskan’ untuk melanggar aturan? Jadi, apa gunanya dia dan para Prefek harus melakukan tugas patroli yang konyol itu?
Dia menghela napas lagi dan mengedarkan pandangannya ke koridor di sekitarnya. Tanpa disadarinya, dia sudah berada di depan sebuah pintu batu yang tersembunyi di salah satu tembok ruang bawah tanah, yang merupakan pintu masuk menuju ruang rekreasi Slytherin.
Dia mengerutkan dahinya. Dia sama sekali tak berniat untuk ‘menjenguk’ bekas ruang asramanya. Niatnya setelah menyelesaikan tugas patrolinya tadi adalah segera kembali ke kamarnya di Asrama Ketua Murid dan menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur king sizenya. Tetapi sepertinya kaki-kakinya memiliki keinginan lain, dan membawanya ke Asrama Slytherin yang sudah lama sekali tak dikunjunginya.
Setelah beberapa saat hanya berdiam di depan pintu batu, akhirnya dia memutuskan untuk masuk. “Tanduk naga,” katanya. Dan langsung saja, pintu batu itu menggeser terbuka.
Dia melangkahkan kakinya masuk dan mengecek ruangan itu, mencari tanda-tanda perubahan. Tetapi kelihatannya tidak ada sama sekali. Ruangan itu masih berupa ruangan panjang dan lebar dengan tembok dan langit-langit batu kasar. Lampu-lampu kehijauan yang tergantung pada rantai di langit-langit dan perapian serta kursi-kursinya yang berukir rumit juga masih sama. Ruangan itu kosong, tak ada satu pun anak yang terlihat sedang mengelilingi perapian seperti biasanya.
Mungkin mereka sudah berada di kamarnya masing-masing,’ pikirnya sambil berjalan menuju salah satu kursi di depan perapian dan menyandarkan punggungnya dengan santai di sana. Dia memejamkan matanya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

Yang Kuinginkan

Disclaimer: I do not own anything, J.K. Rowling does.
Warnings: OOC parah, aneh, gaje, character dead, post-war.
Pairing: Draco Malfoy – Hermione Granger
Genre: Angst & Family
Rated: T

Yang Kuinginkan

“Mistress,” kata seorang peri-rumah dengan nada memohon. “Master Draco tidak mau makan. Tipsy sudah memintanya untuk makan, tetapi Master Draco memerintahkan Tipsy untuk membawa makanannya kembali.”
“Kau tidak berhak meminta Draco untuk melakukan sesuatu,” kataku dingin.
Peri-rumah itu bergetar dan menjatuhkan dirinya ke lantai. “Tipsy mohon ampun. Tipsy tidak bermaksud untuk―Tipsy mohon ampun, Mistress.”
“Cukup, kembalilah ke dapur.”
Setelah peri-rumah itu menghilang, aku berbicara pada suamiku yang sedang duduk di kursi berlengan favoritnya, membaca Harian Prophet. Dia tidak menunjukkan tanda-tanda dia sudah mendengarkan percakapanku dengan peri-rumah tadi.
“Lucius?”
“Hmm?”
“Putra kita tidak mau makan.”
Dia melipat korannya dan menaikkan sebelah alisnya. “Mungkin dia tidak lapar? Narcissa, kuharap kau tidak mencemaskan hal-hal sepele seperti itu. Anak itu terlalu dimanja seperti―”
“Haruskah aku mengingatkanmu,” selaku. “Tentang bagaimana kau selalu memberikan apa yang dia inginkan? Bagaimana kau bahkan membeli sapu-sapu konyol itu untuk Tim Quidditch Slytherin agar dia bisa masuk tim? Meskipun kau tahu betul bahwa kau tidak perlu melakukannya karena dia memang memiliki bakat, dan pasti bisa masuk tim itu dengan kemampuannya sendiri. Jangan mencoba membodohiku dengan mengatakan bahwa kau tidak pernah memanjakannya juga. Dia sudah tidak makan selama dua hari, Lucius.”
Sesuatu berkilat di mata kelabunya. Dia menghela napas, kemudian meletakkan korannya. Kemudian kami meninggalkan ruang duduk dan menuju kamar Draco.
Pintu kamar Draco terkunci. Lucius mengetuk pintu. “Draco?”
Tak ada jawaban.
“Jenggot Merlin, Nak. Kau tidak selamat dari perang hanya untuk mati kelaparan, tentunya.” Urat nadi mulai terlihat di lehernya. Suamiku memang bukan tipe penyabar. “Draco, jawab aku!”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS