RSS
Post Icon

The Destiny IV


Disclaimer: I do not own anything, J.K. Rowling does.
Warnings: OOC parah, sinetroness, kacau, abal, aneh, gaje, post-Hogwarts.
Pairing: Draco Malfoy – Hermione Granger
Genre: Romance & Humor
Rated: T

IV

“Aku bersumpah, Harry. Aku akan membunuh Straton kalau dia berani memaksaku melakukan latihan seperti ini lagi,” kata Ron tersengal-sengal. Keringat membasahi sekujur tubuhnya, mereka baru saja melakukan latihan yang menurut Ron adalah latihan terberat yang pernah mereka jalani.
“Kau tahu bagaimana aturannya, Ron. Jangan selalu mengeluh,” jawab Harry sambil menyeka keringat di dahinya.
“Semua ini tak akan terjadi kalau kau mau menerima tawaran Kingsley untuk jadi Auror secara langsung tanpa harus ikut pelatihan.”
“Yeah, benar. Dan semua ini juga tak akan terjadi kalau kau mau menerima tawarannya juga. Aku tak ingat pernah memintamu untuk mengikuti pelatihan ini bersamaku.”
Ron tidak menjawab. Dia sibuk mengaduk-aduk lokernya mencari handuk. “Kurasa aku mau mandi saja. Dan setelah ini aku akan menemui Lavender. Sebaiknya kau juga bersiap-siap pulang, Harry. Ginny sudah merencanakan makan malam bersamamu.”
“Sebentar lagi,” gumam Harry, menghabiskan air mineral dalam botolnya.
“Oke,” kata Ron sebelum dia pergi meninggalkan Harry. Dia melangkah keluar menuju kamar mandi di sudut ruangan.
Harry duduk sambil kembali menyeka keringatnya. Dia meluruskan kakinya dan menoleh ketika mendengar langkah-langkah kaki yang menghampirinya.
“Potter,” sapa seseorang dari arah kanannya.
“Zabini,” balas Harry.
Sebagai calon Auror, Harry dan Blaise sering sekali memiliki jadwal pelatihan yang sama. Dan seiring berjalannya waktu, hubungan mereka semakin membaik. Tetapi tentu saja hal itu tidak berlaku bagi Ron. Itulah sebabnya Blaise menunggu Ron pergi dulu sebelum dia menghampiri Harry.
Blaise duduk di sebelah Harry. “Aku tidak pernah melihat Hermione beberapa waktu belakangan ini,” katanya santai.
“Aku tidak tahu kau tertarik pada Hermione,” jawab Harry.

Blaise terkekeh. “Aku tidak bilang begitu.”
“Lalu?”
“Tidak ada salahnya menanyakan kabar seseorang, kan?”
“Memang tidak. Tapi kau tak pernah bertanya tentang Hermione sebelumnya, dan tiba-tiba saja kau ingin tahu bagaimana keadaannya.”
Well, aku benar-benar tak tahu harus bilang apa.”
“Apa yang kau inginkan?”
“Bukan aku.”
“Jadi ada seseorang yang menginginkan sesuatu dari Hermione?”
“Kau memiliki naluri yang sangat hebat, Potter.”
“Naluri sangat dibutuhkan untuk menjadi Auror hebat, Zabini.”
“Dan kau belum menjawab pertanyaanku tentang Hermione.”
“Yang kau katakan tadi itu pernyataan.
“Oke. Jadi kuulangi lagi. Bagaimana kabar Hermione? Kenapa dia tidak pernah datang lagi untuk melihat latihanmu?” tanya Blaise jengkel. Terkadang Harry memang bisa menjadi orang yang sangat menyebalkan.
Harry tersenyum puas. “Dia baik, dan dia sedang banyak urusan sekarang.”
“Urusan apa?”
“Kurasa itu bukan urusanmu.”
“Benar, itu memang bukan urusanku.” Blaise terdiam sebentar sebelum melanjutkan lagi, “Jadi, dia akan segera pergi untuk melanjutkan sekolahnya kalau begitu?”
“Mungkin,” jawab Harry.
Mungkin? Aku tak mengerti.”
“Kurasa aku sudah bilang kalau itu bukan urusanmu.”
“Yeah, kau sudah bilang tadi. Tapi kau tak bisa menyalahkanku untuk merasa ingin tahu. Kenapa kau bilang mungkin? Kau pernah bilang kalau pergi ke sekolah healer itu adalah impian Hermione.”
“Kau memiliki daya ingat yang sangat hebat, Zabini.”
“Daya ingat sangat dibutuhkan untuk menjadi Auror hebat, Potter.”
“Yang mengingatkanku pada pembicaraan awal kita sebelumnya.”
“Ya?”
Ada seseorang yang menginginkan sesuatu dari Hermione?”
Blaise terkekeh. “Sepertinya memang sulit sekali menyembunyikan sesuatu darimu, Potter.”
“Siapa kalau begitu?”
Blaise menghela napas, menyerah. “Draco.”
“Malfoy?” mata Harry menyipit curiga.
“Dia tidak bermaksud buruk,” Blaise membela Draco.
“Dan sejak kapan dia tidak memiliki maksud buruk pada Hermione?”
“Sejak dia menolak menjadi Pelahap Maut, bergabung dengan Orde, dan membujuk ayahnya untuk ikut membantu Dumbledore?”
“Oke, bisa diterima.” Harry memutar bola matanya. “Tapi bukan berarti aku bisa melupakan apa yang dia lakukan pada Hermione ketika kita semua masih di Hogwarts dulu.”
“Ayolah, Potter. Kurasa kau lebih tahu bagaimana untuk tidak menghakimi orang seperti itu. Draco sudah banyak berubah. Dan kalau kau lebih jeli, kau akan tahu kenapa Draco sering sekali mengejek Hermione.”
“Apa maksudmu?”
“Draco suka pada Hermione.”
“Dan aku menyukai Parkinson,” kata Harry sinis.
“Aku serius, Potter.”
“Yang benar saja,” Harry tak percaya.
“Harus kuakui, Draco memang tidak mengakuinya atau paling tidak belum menyadarinya. Tapi apakah kau tak pernah melihat kalau mereka sedang bertengkar dan saling mengejek?”
Harry hanya menaikkan kedua alisnya bingung.
“Begini, apakah kau tidak pernah bertanya pada dirimu sendiri? Dari semua kelahiran-Muggle yang bersekolah di Hogwarts, kenapa selalu Hermione yang Draco ejek?”
“Uhm, karena dia salah satu sahabatku? Dan Malfoy membenciku?” kata Harry tak yakin.
“Dan kenapa Draco membencimu?” tuntut Blaise.
“Karena aku tak mau menjabat tangannya ketika dia mengulurkan tangannya padaku di kereta api Hogwarts pada tahun pertama kami?”
“Percayalah, Potter. Draco tak akan membenci seseorang hanya karena mereka tak mau menjabat tangannya.”
“Bisakah kau menjelaskannya secara langsung tanpa harus berbelit-belit seperti itu?” kata Harry tidak sabar.
“Intinya, dia membencimu karena kau dekat dengan Hermione. Bukan sebaliknya. Dan dia lebih membenci Weasley lagi karena dia tahu Hermione naksir Weasley.”
“Tunggu dulu―dari mana kau tahu Hermione menyukai Ron?”
“Bukan itu masalahnya. Lagi pula itu bukan topik pembicaraan kita sekarang. Dan kulihat Weasley sudah berkencan dengan Brown, jadi seharusnya sekarang Hermione sudah menyerah untuk mendapatkan kepala tomat itu.”
“Hei, itu kasar sekali. Jadi apa kesimpulan dari semua itu? Dan apa yang diinginkan Malfoy dari Hermione? Kuharap itu bukan sesuatu yang buruk, mengingat kita sedang membicarakan Malfoy di sini,” kata Harry mulai gusar.
“Kesimpulannya adalah Draco menyukai Hermione meskipun dia tidak mengakuinya atau dalam kasus ini menyadarinya. Dan Draco ingin Hermione menjadi pacarnya.”
“Apa kepalamu terbentur sesuatu ketika latihan tadi?”
“Pertanyaan bagus, Potter. Tapi aku sama sekali tidak terbentur apa pun.”
“Kau salah minum ramuan kalau begitu?”
“Aku tidak pernah meminum ramuan apa pun, kecuali kalau memang benar-benar harus.”
“Kurasa kau hanya membuat lelucon yang sama sekali tidak lucu, Zabini.”
“Sekali lagi, Potter. Tak ada yang salah sama sekali pada diriku. Dan aku tidak sedang membuat lelucon atau apa pun yang kau pikirkan tentangku di kepalamu.”
“Dan apa yang membuat Malfoy ingin menjadikan Hermione sebagai pacarnya? Dia sudah gila atau apa?”
“Aku juga bilang begitu ketika aku baru mendengar ide gilanya itu.”
“Ide gila?”
Blaise menghela napas sebelum berbicara dengan nada yang lebih serius. “Baiklah, Potter. Aku akan menceritakan semuanya padamu sejak awal. Dan kau harus berjanji―kau tidak akan menyelaku, atau melakukan apa pun untuk menginterupsi ceritaku. Kau bisa melakukan itu?”
Harry menatap Blaise selama beberapa saat. Blaise terlihat sangat serius, membuatnya tidak memiliki pilihan lain selain menganggukkan kepalanya. “Oke, ceritakan semuanya padaku.”
Blaise menyeringai. Dia tahu, dia bisa mengandalkan Harry dalam masalah ini. Dengan begitu, dia menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan Harry dan mulai menceritakan semuanya dari awal. Setelah dia selesai, dia memandang Harry yang sepertinya pada saat itu tak bisa berkata apa-apa. Mata Harry melebar dan mulutnya terbuka.
“Nah, bagaimana menurutmu?” tanya Blaise akhirnya.
“Itu hal paling menggelikan yang pernah kudengar. Maksudku, Narcissa ingin agar Malfoy segera menikah? Dan dengan Parkinson?” kata Harry, tertawa.
“Dari semua hal yang kuceritakan, apa hanya itu yang tertangkap oleh otakmu?”
“Yeah, maksudku Malfoy dan Parkinson? Oh, hebat sekali.”
“Potter, seriuslah.”
“Oke, oke. Aku mengerti sekarang kenapa Malfoy menginginkan Hermione. Dan apa tadi kau sudah bilang apa keuntungan dari semua ini untuk Hermione?”
Well, sebenarnya Draco tidak mengatakan apa pun pada bagian itu. Dia hanya bilang bahwa dia akan melakukan apa pun agar Hermione mau membantunya.”
“Dan yang dia maksud dengan apa pun adalah apa pun?
“Ya, kurasa begitu.”
“Bagus. Kurasa aku tahu apa yang bisa Malfoy lakukan untuk Hermione.”
“Kau yakin?”
“Tentu saja.”
“Bagus sekali kalau begitu. Jadi kau mau mengatakannya padaku sekarang?”
Harry terlihat berpikir selama beberapa saat sebelum menggelengkan kepalanya. “Kurasa tidak, Zabini. Aku harus membicarakannya dulu dengan Hermione.”
“Oh, aku mengerti. Tapi apa kau bisa menjamin kalau Hermione pasti akan mau?”
“Mungkin tidak seratus persen. Tapi kurasa dia akan mempertimbangkannya.”
“Oke. Aku akan memberitahu Draco kalau begitu. Sampai ketemu, Potter.” Dengan begitu Blaise bangkit, berjalan menuju lokernya, dan kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi.
Harry menghela napas, dia tahu apa yang bisa dilakukannya sekarang untuk membantu Hermione. Meskipun dia tidak benar-benar yakin, tapi paling tidak dia sudah mendapatkan alternatif untuk memecahkan masalah Hermione. Dia mengambil tasnya, dan tanpa menuju kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dulu seperti teman-temannya yang lain―dia langsung ber-Apparate menuju flat Hermione.

- TBC -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar