RSS
Post Icon

The Destiny V

Disclaimer: I do not own anything, J.K. Rowling does.
Warnings: OOC parah, sinetroness, kacau, abal, aneh, gaje, post-Hogwarts.
Pairing: Draco Malfoy – Hermione Granger
Genre: Romance & Humor
Rated: T

V

Hermione sedang menyiapkan makan malam di dapurnya ketika dia mendengar suara seseorang yang memanggilnya dengan terburu-buru.
“Hermione! Di mana kau?”
Hermione keluar dari dapurnya, menuju ruang tamunya, dan melihat Harry yang berantakan. Belum sempat dia menyapa Harry, pemuda itu sudah menariknya duduk. “Hermione, kau tak akan mempercayai apa yang akan kukatakan. Tetapi kau harus percaya. Dan meskipun aku tidak begitu yakin, kurasa ini satu-satunya cara untuk keluar dari masalahmu. Kecuali kalau kau mau menerima bantuanku―yang sudah berkali-kali kau tolak―”
“Harry,” sela Hermione.
“―aku tahu kedengarannya memang sangat tidak―”
“Harry,” sela Hermione lagi.
“―masuk akal, dan percayalah aku juga menganggapnya―”
“Harry,” Hermione memutar bola matanya.
“―gila, tapi Zabini menceritakan semuanya sejak a―”
“HARRY! Aku sama sekali tak tahu apa yang sedang kau bicarakan,” seru Hermione kesal.
“Oh,” akhirnya Harry berhenti. “Kurasa aku terlalu terbawa suasana. Sori, Hermione.”
“Yeah, kurasa memang begitu. Jadi apa yang terjadi sebenarnya? Dan Harry, jangan bilang kau baru saja kembali dari tempat pelatihan Auror dan langsung ke flatku. Merlin! kau berantakan sekali,” cela Hermione.
Well, aku memang baru saja selesai pelatihan Auror, dan aku belum sempat membersihkan diri. Tapi aku memiliki alasan untuk itu, dan seperti yang akan kukatakan ta―”

“Harry, bisakah kau menjelaskannya padaku tanpa terburu-buru seperti itu?” tanya Hermione lebih sabar.
“Oh yeah, tentu,” Harry nyengir lebar.
“Oke. Kau mau minum sesuatu dulu?”
“Er, kurasa Butterbeer boleh juga. Kalau kau ada tentunya.”
“Tunggu sebentar,” kata Hermione. Tak lama kemudian dia kembali dengan membawa dua gelas besar berisi Butterbeer.
Harry menerimanya penuh rasa terima kasih. Dia segera meminumnya sebelum menyandarkan tubuhnya di sofa. “Trims, Hermione.”
“Jadi, apa yang ingin kau katakan tadi?” tanya Hermione santai, dia juga meminum Butterbeer dari gelasnya sendiri.
 Well, begini―” dan Harry menceritakan semua hal (kecuali hal-hal tertentu yang menurutnya lebih baik jangan diceritakan sekarang) yang dikatakan Blaise padanya di tempat pelatihan Auror tadi. Setelah selesai, dia meminum Butterbeernya lagi dan memandang Hermione yang sepertinya sedang terbelit lidahnya sendiri. “Hermione? Kau baik-baik saja?”
“Harry, seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu,” kata Hermione setelah bisa menyerap seluruh cerita Harry ke dalam otaknya.
“Apa maksudmu?” tanya Harry bingung.
“Kau yakin kau tidak sedang berhalusinasi?”
“Tentu saja tidak, Hermione. Apa yang membuatmu berpikir aku sedang berhalusinasi?”
“Karena semua yang kau ceritakan tadi benar-benar aneh dan kedengarannya sangat sinting. Kau yakin kau tidak kena efek suatu kutukan ketika latihan tadi?” tanya Hermione cemas.
“Hermione, aku benar-benar mengerti kalau kau tidak mempercayaiku. Tapi tadi aku benar-benar bertemu dengan Zabini, dan kau bisa mengiriminya burung hantu kalau kau mau.”
“Kau serius? Lalu apa yang kau katakan pada Blaise?”
“Aku hanya bilang kalau aku akan membicarakannya denganmu.”
“Oh, jadi bagaimana menurutmu kalau begitu?”
Harry mengangkat bahunya. “Terserah padamu, Hermione.”
Well, aku tidak tahu, Harry. Aku tidak yakin kalau ini akan berhasil. Maksudku, lihat saja bagaimana seringnya aku dan Malfoy bertengkar.”
“Zabini bilang Malfoy akan melakukan apa pun agar kau mau.”
“Kau sudah mengatakannya tadi.”
“Jadi kau tidak mau?”
“Entahlah, Harry. Aku benar-benar tidak tahu.”
Well, aku akan bilang pada Zabini kalau kau tidak mau.”
“Aku tidak bilang kalau aku tidak mau. Aku hanya tidak tahu.”
“Kau boleh menolaknya, Hermione. Dan dengan begitu, kau harus menerima bantuanku. Kau sudah tidak memiliki solusi lain,” kata Harry senang.
“Oh, tidak. Tidak, Harry,” kata Hermione keras kepala.
“Bukankah akan lebih mudah kalau kau menerima bantuanku saja?”
“Yeah, memang. Tapi aku tidak mau membuatmu repot. Itu uangmu, dan seharusnya kau menggunakannya untuk keperluanmu sendiri.”
“Aku benar-benar tidak merasa direpotkan. Dan saat ini aku sedang tidak membutuhkan uang sama sekali.”
“Mungkin sekarang memang tidak, tapi kau tidak akan tahu apa yang akan terjadi suatu hari nanti. Lagi pula aku juga tak tahu kapan aku bisa mengembalikan uangmu, Harry.”
“Aku tidak pernah menetapkan waktu, Hermione.”
“Tetap saja, Harry.”
Harry tidak menjawab. Betapa pun kerasnya dia berusaha untuk membujuk Hermione, dia selalu kalah pada akhirnya. Lama tak terdengar suara apa pun sampai akhirnya Hermione menarik napas dalam-dalam, menatap Harry.
“Baiklah, aku mau.”

-o0o-

Beberapa hari telah berlalu sejak pembicaraan terakhir Draco dengan Blaise. Dan saat ini Draco sedang duduk santai di depan perapian, menyelesaikan membaca bukunya. Tak banyak yang tahu kalau dia suka membaca, dan dia memang tak berniat untuk membuat orang lain mengetahui kegemarannya itu. Lagi pula, memang siapa yang akan menyangka kalau seorang Draco Malfoy suka membaca seperti kutu buku? Tentunya dia tak akan membiarkan orang lain mengetahui rahasia kecilnya itu.
Dia baru saja selesai menandai bab baru di bukunya ketika Blaise tiba-tiba saja muncul di hadapannya dengan seringai lebar tergambar jelas di wajahnya. Kelihatannya Blaise membawa berita baik. Dia nyengir lebar ketika melihat Draco sedang memperhatikannya dengan intens.
Well?” tanya Draco sambil meletakkan buku dan menegakkan posisi duduknya.
Blaise mengambil tempat duduk di sofa di hadapannya. “Aku sudah berbicara dengan Potter.”
“Kupikir urusan kita berhubungan dengan Granger?”
“Dan sejauh yang kutahu, Hermione berhubungan juga dengan Potter,” jawab Blaise.
“Oke. Berita apa yang kau bawa?”
“Aku sudah mengatakannya tadi.”
“Hanya itu? Kau sudah berbicara dengan Potter?”
“Setidaknya hargailah sedikit usahaku, Draco.”
Draco menyandarkan tubuhnya ke sofa lagi, dan Blaise memakan puding yang ada di piring Draco tanpa basa-basi. “Kelihatannya ibumu baru mengunjungimu lagi?” kata Blaise setelah puding yang dimakannya habis.
“Begitulah,” jawab Draco tak peduli.
“Kita tinggal menunggu kabar dari Potter saja kalau begitu. Kurasa dia langsung menuju ke tempat Hermione sehabis pelatihan Auror tadi.”
“Sebaiknya begitu. Semakin cepat, semakin baik.”
Pada saat itu, terdengar ketukan dan kepakan sayap di dekat jendela. Draco dan Blaise menoleh, dan melihat burung hantu seputih salju mematuk-matukan paruhnya ke jendela.
“Sepertinya aku pernah melihat burung hantu itu,” kata Draco.
“Yeah, itu burung hantu milik Potter. Buka jendela itu, Draco,” jawab Blaise.
Draco mengarahkan tongkatnya ke jendela, dan dia membuka jendela itu dengan mantra non-verbal. Jendela itu menjeblak terbuka, dan burung hantu seputih salju itu bertengger di ambang jendela. Blaise menghampirinya, melihat surat di kaki burung itu, kemudian mengambilnya. Burung hantu itu segera terbang keluar begitu Blaise sudah melepaskan ikatan surat di kakinya.
Blaise membuka surat itu dan membacanya keras-keras.

Zabini,
Aku sudah berbicara dengan Hermione, dan dia setuju. Dia meminta Malfoy untuk bertemu dengannya di Three Broomstick besok pukul 10.
Potter

Senyum lebar menghiasi wajah Draco ketika dia mengetahui isi surat singkat itu. “Kau berhasil, mate,” katanya.
“Jangan senang dulu, Draco. Kau baru boleh merasa senang kalau Hermione sudah benar-benar setuju,” kata Blaise.
“Bukankah tadi Potter bilang bahwa Granger sudah setuju?”
“Memang, tapi tidak berarti Hermione tidak bisa menarik keputusannya lagi setelah melihatmu besok.”
Draco melempar pandangan bertanya pada Blaise.
“Sebaiknya kau menahan emosimu. Kau sangat temperamental, dan kau tahu itu. Yakinkan Hermione kalau dia sudah mengambil keputusan yang tepat dengan mau menjadi pacarmu.”
“Aku mengerti, Blaise.”
“Jangan melakukan hal-hal bodoh seperti memancing pertengkaran. Kesalahan sedikit saja, bisa berakibat fatal pada seluruh rencanamu,” lanjut Blaise.
“Yeah, kita lihat saja besok.”
“Aku tidak main-main, Draco.”
“Apa bagimu aku terlihat sedang main-main?”
“Ingat-ingat saja apa yang baru saja kukatakan.”
“Oke, Daddy.
Blaise memutar bola matanya. “Aku kembali dulu, perlu istirahat. Latihan tadi benar-benar sukses menguras seluruh tenagaku. Hubungi aku besok siang?”
“Pasti.”
“Dan kau berhutang banyak padaku, Draco.”
“Yeah, yeah. Aku tahu itu.”
“Bagus, aku kembali dulu. Bye,” dan Blaise sudah menghilang sebelum Draco sempat mengucapkan kata bye juga.
Draco merasa seperti melayang ketika dia berjalan menuju kamarnya. Dia memutuskan untuk tidur lebih cepat, dan dia yakin sekali dia tidak akan mengalami mimpi buruk malam ini. Untuk pertama kalinya selama beberapa waktu belakangan, akhirnya dia bisa tidur dengan senyum mengembang di wajahnya. Hari ini memang benar-benar hari keberuntungannya.

- TBC -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar