RSS
Post Icon

The Destiny VI

Disclaimer: I do not own anything, J.K. Rowling does.
Warnings: OOC parah, sinetroness, kacau, abal, aneh, gaje, post-Hogwarts.
Pairing: Draco Malfoy – Hermione Granger
Genre: Romance & Humor
Rated: T

VI

Draco mengetuk-ngetukkan jari tangannya di salah satu meja di Three Broomstick. Berkali-kali dia melirik jam tangannya dan memandang pintu masuk. Dia sudah menghabiskan Wiski Apinya yang ketiga, tetapi ujung batang hidung Granger belum terlihat juga. Dia menghela napas dan kembali mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. Menunggu memang kegiatan yang paling membosankan.
Draco mengedarkan pandangannya ke ruangan di sekitarnya. Tak banyak yang berubah pada tempat itu. Dia melihat ada banyak siswa Hogwarts yang sedang menikmati Butterbeer di kedai minum paling terkenal di Hogsmeade itu, dan Madam Rosmerta sedang sibuk melayani pelanggan-pelanggannya. Pikirannya melayang kembali ke masa-masa ketika dia masih bersekolah di Hogwarts. Rasanya baru kemarin dia menerima surat dari Hogwarts, membeli tongkat sihirnya, naik kereta api menuju Hogwarts untuk pertama kalinya, memakai Topi Seleksi, dan masih banyak lagi hal-hal lain yang tidak akan pernah mungkin bisa dia lupakan di sekolah itu. Cepat sekali tahun-tahun itu berlalu.
Pikirannya teralih ketika dia mendengar pintu kedai Three Broomstick berderit―menandakan ada seseorang yang baru saja membukanya. Pandangannya segera tertuju pada seorang gadis berambut cokelat yang sepertinya sedang mencari seseorang. Dia tidak mengenalinya. Tatapannya kembali ke gelas Wiski Apinya yang sudah hampir kosong.
Dia baru saja akan beranjak dari tempat duduknya untuk mengisi ulang gelasnya ketika dia melihat gadis berambut cokelat tadi berjalan ke arah mejanya. Gadis itu tersenyum gugup sebelum menyapanya dengan ragu-ragu, “Malfoy.”
Suara itu. Draco pernah mendengarnya di suatu tempat. Dia memandang gadis itu, mengerutkan dahinya, mencoba mengingat-ingat di mana dia pernah bertemu dengan gadis itu. Dia memperhatikan wajah gadis itu, dan pandangannya terhenti di kepala gadis itu. Dan kemudian dia tahu.

Draco tak bisa mempercayai penglihatannya. Gadis yang berdiri di hadapannya saat ini sangatlah jauh berbeda dengan gadis yang dikenalnya ketika masih di Hogwarts dulu. Gadis itu terlihat lebih cantik, dan dia hampir tidak bisa mengenalinya. Banyak yang berubah pada diri gadis itu, rambutnya tidak lagi mengembang berantakan seperti yang diingatnya dulu, dan sepertinya dia bertambah tinggi beberapa centimenter―tetapi meskipun demikian, Draco yakin ujung kepala gadis itu hanya mampu menyentuh dagunya.
“Granger?” katanya akhirnya.
“Yeah,” jawab gadis itu.
“Apa yang terjadi pada rambut semakmu?”
“Maaf?”
“Rambutmu terlihat berbeda. Maksudku―” Draco berhenti. Dia tak tahu harus mengatakan apa.
“Ya?”
“Er, kau terlihat―berbeda,” kata Draco gugup. Merlin! Sejak kapan dia bicara terbata-bata seperti Longbottom?
Gadis itu hanya menaikkan alisnya, dan Draco berdeham.
“Ehem―Granger, aku sudah menunggumu sejak tadi.”
“Bisa kulihat dengan jelas, Malfoy.”
Draco menatap Hermione, dan dia ingat dia sudah menunggu Hermione sejak beberapa waktu yang lalu seperti orang idiot. Dia duduk dan memberi isyarat pada Hermione agar duduk di hadapannya.
“Kau terlambat, Granger. Kupikir kau akan membatalkan janjimu, lama sekali kau baru muncul.”
Hermione menyandarkan bahunya ke kursi, dan memutar bola matanya. “Terlambat? Kau kira sekarang jam berapa, Malfoy?”
Draco melirik jam tangannya, pukul 09.57. Dan segera saja dia merasa pipinya memanas―sesuatu yang sepanjang ingatannya, tak pernah terjadi sebelumnya. Draco mengutuk dalam hati, memang kesalahannya sendiri karena dia memutuskan untuk datang satu jam lebih awal. Kemudian dia menatap Hermione lagi, yang membalas tatapannya dengan senyum puas.
“Baik. Aku akan mengisi ulang minumanku. Kau mau minum sesuatu?” tanya Draco.
“Kurasa jus labu kuning sudah cukup,” jawab Hermione.
Draco mengangguk sebelum bangkit lagi dari tempat duduknya dan melangkah menuju konter untuk mengambil minuman. Tak lama kemudian, dia kembali dengan membawa satu nampan berisi dua gelas minuman dan satu piring muffin. Dia meletakkan bawaannya di meja, dan duduk di kursinya.
“Trims,” kata Hermione.
Draco tidak menjawab, dia hanya memandangi gelasnya. Kesunyian meliputi mereka berdua.
“Er―tidakkah kau ingin mengatakan sesuatu?” tanya Hermione akhirnya.
Draco mengangkat wajahnya. “Kurasa kau sudah tahu apa yang ingin kubicarakan, Granger?”
“Yeah, tapi aku ingin mendengarnya langsung darimu.”
Draco menghela napas. “Granger, apa aku perlu melakukan itu? Kukira Potter sudah menjelaskan semuanya padamu.”
Hermione memutar bola matanya. “Jadi kau serius dengan idemu itu?”
“Aku tak akan berada di sini kalau aku tak serius.”
“Kenapa aku?”
Draco mengangkat bahu. “Entahlah, kau orang pertama yang terlintas di benakku.”
Hermione tidak menjawab, dia mengaduk-aduk jus labu kuningnya dengan sedotan. Dan Draco mulai merasa agak tidak nyaman.
“Jadi, kau―eh, bersedia membantuku?” tanya Draco.
Hermione menghentikan kegiatannya, menatap Draco. “Sebenarnya, aku belum benar-benar memutuskannya. Aku belum yakin, dan aku tak tahu apakah semua ini akan berhasil atau tidak.”
“Ini ideku. Tentu saja akan berhasil,” kata Draco besar kepala.
“Justru karena ini idemu, aku jadi meragukannya,” balas Hermione.
“Apa kau ingin mengatakan kalau ideku itu konyol?” tanya Draco panas.
“Aku tak akan heran kalau kau menghabiskan sebagian besar waktumu hanya untuk memikirkan ide yang tolol dan tak masuk akal itu,” kata Hermione tak mau kalah.
“Tolol dan tak masuk akal?” kata Draco tajam.
“Yeah, seperti memintaku untuk menjadi pacarmu,” kata Hermione sengit.
“Hanya untuk selama beberapa waktu, Granger.”
“Dan berapa tepatnya beberapa waktu itu, Malfoy?”
“Sampai cukup untuk membuatku patah hati.
Hermione hanya menatapnya.
“Itu rencananya, Granger. Kau akan berpura-pura menjadi pacarku agar kedua orangtuaku berhenti menjodohkanku dengan gadis-gadis idiot seperti Parkinson. Setelah beberapa waktu, kita akan berpura-pura kalau hubungan kita sedang mengalami masalah besar, dan akhirnya kita putus. Kemudian aku akan berada dalam kondisi depresi berat, dan akhirnya memutuskan untuk tidak pernah menjalin suatu hubungan lagi,” kata Draco. Dia melipat lengannya di depan dadanya, menatap Hermione sambil menyeringai puas.
Hermione menatapnya tak percaya. Harry memang sudah menceritakan semuanya, tetapi mendengarnya keluar dari mulut Malfoy secara langsung sangatlah terasa berbeda. Untuk beberapa saat dia tak mampu berkata apa-apa.
“Apa kau masih menganggap ideku itu tolol dan tak masuk akal?” tanya Draco tanpa merubah posisi duduknya.
“Tentu saja. Bagaimana caranya kau membuktikan pada kedua orangtuamu kalau kita benar-benar pacaran?”
“Itu mudah. Kita akan tinggal di Manor bersama kedua orangtuaku dan bertingkah seperti sepasang kekasih.”
“Mereka tidak akan mempercayainya begitu saja.”
“Dan itu tugasmu untuk membuat mereka mempercayai kita.”
“Baik, aku mengerti. Aku hanya perlu melakukan ini selama beberapa hari saja, kan?”
“Mereka tidak akan percaya aku bisa depresi berat kalau kita hanya berhubungan selama beberapa hari saja, Granger.
Hermione menyipitkan matanya. “Berapa lama yang kau minta?”
“Selama aku menganggapnya perlu,” jawab Draco santai.
“Jangan main-main, Malfoy. Aku butuh kepastian waktu, dan kau harus tahu bahwa aku tak memiliki banyak waktu.”
Draco menghela napas. “Baik, aku berjanji semua ini tak akan lebih dari dua bulan.”
“Dua bulan? Kau mengharapkanku untuk tinggal bersamamu dan kedua orangtuamu di Manor selama dua bulan? Kau gila atau apa?” suara Hermione mulai melengking.
“Tidak perlu bertingkah seperti banshee, Granger. Aku sama sekali tidak bilang kita akan tinggal di Manor selama dua bulan. Kita hanya akan berpura-pura menjalin hubungan selama dua bulan, dan kalau semuanya berjalan baik mungkin kurang dari dua bulan kita sudah putus.
“Oke, setelah dua bulan kau akan mendapatkan kebebasanmu kembali. Lalu apa yang akan kudapatkan? Harry tak menjelaskan apa-apa padaku di bagian itu. Dia hanya bilang aku boleh meminta apa pun yang kumau,” kata Hermione hati-hati.
Draco menggeleng-gelengkan kepalanya. “Granger, aku tahu aku akan menyesal sudah mengatakan ini. Tapi, ya. Kau boleh meminta apa pun yang kau mau. Dan selama aku bisa memenuhi permintaanmu, aku akan melakukannya.”
“Kau bersungguh-sungguh?” tanya Hermione agak ragu.
“Aku tak pernah main-main dengan kata-kataku, Granger.”
Hermione tersenyum lebar. “Aku tahu apa yang akan kuminta darimu, Malfoy.”

- TBC -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar