Disclaimer: I do not own anything, J.K. Rowling does.
Warnings: OOC parah, sinetroness, kacau, abal, aneh, gaje, post-Hogwarts.
Pairing: Draco Malfoy – Hermione Granger
Genre: Romance & Humor
Rated: T
III
Hermione belum memiliki kegiatan apa-apa hari ini. Ahirnya dia memutuskan untuk melewatkan hari ini dengan berjalan-jalan di sekitar Diagon Alley, mungkin hal itu bisa membantunya untuk melupakan masalahnya meskipun hanya sebentar. Dia bangkit dari kursinya, menghela napas. Sepertinya dia memang sering sekali menghela napas akhir-akhir ini.
Dia kembali ke kamarnya di lantai atas untuk berganti pakaian. Tak lama kemudian, dia sudah siap dan sudah akan ber-Apparate ketika dia merasa berjalan kaki ke Diagon Alley akan jauh lebih baik baginya. Lagi pula letak flatnya juga tidak terlalu jauh dari tempat itu. Dia menuruni tangga, dan setelah memastikan semua pintu flatnya terkunci, dia pergi menuju Diagon Alley.
‘Mungkin sebaiknya aku ke Flourish and Blotts saja,’ pikir Hermione dalam perjalanannya. Membaca selalu bisa mengalihkan perhatiannya. ‘Atau mungkin aku bisa ke Florean Fortescue, kudengar ada es krim rasa baru di sana. Aku bisa mencobanya,’ pikir Hermione lagi.
Akhirnya dia sampai di gerbang Diagon Alley. Dia mengeluarkan tongkatnya, dan mengetuk tembok batu yang merupakan gerbang menuju Diagon Alley sebanyak tiga kali. Gerbang itu membuka, dan dia segera melangkah masuk ke dalamnya.
Hari itu cuaca agak mendung. Tapi London memang hampir selalu berkabut setiap harinya, bahkan di musim panas sekali pun. Hermione memandang sekelilingnya, banyak sekali yang sudah berubah sejak dia menginjakkan kakinya untuk yang pertama kali di tempat itu. Banyak toko-toko baru bermunculan di sana-sini, dan sepertinya semakin hari tempat itu semakin ramai saja. Kejatuhan Voldemort memang banyak membawa hal-hal baru, hal-hal yang lebih baik tentunya.
“Hermione,” panggil seseorang dari belakangnya. Dia menoleh untuk melihat orang yang dipanggilnya, dan tersenyum lebar ketika dia mengenali orang itu.
“Neville! Bagaimana kabarmu?” sapanya ceria. Dia tak mengira akan bertemu dengan salah satu teman seasramanya di Hogwarts.
“Hebat. Dan kau?” jawab pemuda berwajah bundar itu.
“Seperti yang kau lihat,” kata Hermione.
“Kau sendirian?”
“Begitulah.”
“Ke mana Harry dan Ron? Bukankah seharusnya mereka tidak ada pelatihan hari ini?”
Hermione mengangkat bahu. “Aku sedang ingin sendiri.”
“Oh, begitu. Jadi kau ingin mencari apa?”
“Tak ada, hanya sekadar ingin melihat-lihat saja. Dan kau sendiri?”
Seketika wajah Neville menjadi agak memerah. “Er, aku ada janji dengan seseorang.”
Mata Hermione melebar. “Oh, Neville. Siapa dia?”
Wajah Neville menjadi semakin merah. “Hannah. Bukan apa-apa, kami hanya ingin mendiskusikan tanaman-tanaman baru saja.”
“Neville, hebat sekali. Kau pasti bisa menjadi ahli tanaman yang terkenal suatu hari nanti.”
“Trims, Hermione. Tapi sebenarnya aku ingin menjadi seorang Profesor. Kau tahu, aku selalu mengagumi Profesor Sprout ketika di Hogwarts dulu.”
“Yeah, dan kau selalu mendapat nilai tinggi dalam pelajaran Herbologi. Kau pasti bisa, Neville.”
“Kuharap begitu. Dan Hermione, aku harus pergi sekarang. Kurasa Hannah sudah menungguku.”
“Oh ya, tentu. Sukses untukmu, Neville.”
“Kau juga.” Dan mereka pun berpisah.
Hermione masih tersenyum memandang kepergian Neville. Teman-temannya sudah banyak yang menjadi orang sukses, dan sepertinya tak lama lagi akan banyak undangan pesta pernikahan untuknya. Hermione memejamkan matanya, perasaan sedih itu menyerangnya kembali. Dia masih belum tahu apa yang akan terjadi pada masa depannya nanti. Bayangan seorang nenek tua kesepian yang hanya tinggal bersama kucingnya meliputi benaknya. ‘Mungkin aku akan menjadi seperti Mrs. Figg,’ pikirnya ngeri. Tiba-tiba saja ide untuk mengunjungi Diagon Alley sudah tidak tampak menyenangkan lagi baginya.
Dia berbalik menuju gerbang, dan menghilang di tengah kerumunan.
-o0o-
“Bisakah kau berhenti berjalan bolak-balik di hadapanku, Blaise?” tanya Draco dari posisi duduk santainya.
“Kau gila, ya?” jawab Blaise.
“Aku tak mengerti. Apanya yang gila?”
“Apa kau tak sadar kalau idemu itu sangatlah tidak masuk akal?”
“Menurutku itu brilian.”
“Membohongi orangtuamu seperti itu?”
“Aku tak akan melakukannya kalau tidak karena terpaksa.”
“Yeah, aku mengerti bagian itu. Tapi mereka tetap orangtuamu.”
“Kau sama sekali tidak membantu, Zabini,” kata Draco mulai kesal.
“Zabini, eh?” cibir Blaise.
“Jadi kau mau membantuku atau tidak?”
“Dan apa keuntungannya untukku?”
“Aku serius, Blaise.”
“Well, hanya karena aku sudah menjadi orang baik, bukan berarti aku bukan Slytherin.”
Draco memandang Blaise tidak percaya, dan Blaise terkekeh.
“Oke, kita anggap saja aku setuju membantumu. Sekarang masalah kedua, bagaimana kau meyakinkan Hermione agar mau terlibat dalam rencanamu,” Blaise mengerutkan dahinya.
Draco tersenyum penuh kemenangan. “Nah, itu masalahmu.”
“Maaf?”
“Kau akan membantuku untuk meyakinkan Granger agar dia mau terlibat dalam ide brilianku.”
Blaise mengumpat keras. “Kau memang benar-benar brengsek, Malfoy.”
Draco terbahak. “Kau tak perlu mengatakannya. Aku sudah tahu.”
Blaise memutar bola matanya. “Oke, katakan padaku bagaimana caranya aku melakukan tugas tak masuk akal ini?”
“Tak masuk akal?”
“Demi bokong Merlin, Draco. Seluruh dunia sihir tahu bagaimana sejarah hubungan kalian berdua. Kalian saling membenci. Aku bahkan berani bertaruh, kalian tidak bisa berada dalam ruangan yang sama selama lima menit tanpa ada salah satu di antara kalian yang mati.”
Draco memutar bola matanya. “Tidak perlu berlebihan seperti itu.”
“Intinya, kalian tidak akan tahan untuk bisa berdekatan satu sama lain dalam radius lima ratus meter tanpa paling tidak saling melemparkan ejekan.”
“Itu di Hogwarts, Blaise. Kami sudah lebih dewasa sekarang.”
“Pernahkah kau mendengar ada ungkapan ‘kebiasaan lama sulit dihilangkan’?”
“Aku tahu itu. Dan kau juga harus tahu, aku akan melakukan apa pun untuk keluar dari masalah ini.”
“Termasuk meminta Hermione untuk menjadi pacarmu?”
“Ya.”
“Kalau kau seyakin itu.”
“Aku belum pernah seyakin ini, Blaise.”
“Baik. Ini mudah. Aku hanya tinggal menghampiri Hermione, dan berkata, ‘Hei, Hermione. Maukah kau menjadi pacar Malfoy agar dia tidak perlu dijodohkan dengan Pansy? Aku tahu sudah lama Malfoy menyukaimu, jadi kuharap kau tidak menolak dia.’ Nah, bagaimana kedengarannya?” kata Blaise sinis.
“Yeah, bagus sekali,” kata Draco tak kalah sinisnya. “Dan―aku akan membunuhmu dengan kedua tanganku sendiri kalau kau sampai bilang pada Granger bahwa aku menyukainya.”
“Oh, kau membuatku takut, Malfoy.”
“Tentu saja. Karena aku sama sekali tak menyukai Granger.”
“Benar sekali,” kata Blaise, memandang langit-langit.
“Aku tak menyukai nada bicaramu, Blaise.”
“Terserahlah.”
“Oke, kita kembali ke inti masalah. Bicaralah pada Granger, apa saja. Dan seharusnya kau bisa melakukannya, kudengar kau cukup dekat dengan Granger sekarang.”
“Tidak sedekat itu. Aku hanya pernah bertemu dengannya beberapa kali. Itu pun karena dia sering mengunjungi Potter dan Weasley, tetapi belakangan ini aku tak pernah melihatnya lagi.”
Saat ini Blaise juga sedang mengikuti pelatihan Auror bersama Harry dan Ron. Draco masih ingat, dia tertawa sangat keras sampai perutnya sakit ketika Blaise mengatakan bahwa dia ingin menjadi Auror. Tetapi dia segera menghentikan tawanya ketika melihat wajah serius Blaise. Memang sulit dipercaya, seorang Blaise Zabini―sahabat Draco Malfoy―Slytherin sejati, bercita-cita ingin menjadi seorang Auror. Neraka pastilah sudah membeku. Tapi itulah kenyataannya, dan diam-diam Draco merasa bangga pada sahabatnya itu.
“Mungkin dia sedang ada masalah?” tanya Draco.
“Entahlah. Aku pernah mendengar dari Potter, Hermione ingin melanjutkan sekolahnya di Jerman. Tapi aku tak tahu kapan dia akan meninggalkan London.”
“Well, kurasa kita harus bergerak cepat kalau begitu.”
“Sekali lagi, apa kau benar-benar yakin ini akan berhasil?”
“Tentu saja, Blaise. Ini ide paling hebat yang pernah kupikirkan sepanjang hidupku.”
“Aku masih belum yakin, Draco.”
“Oke, aku tahu pada awalnya pasti akan terasa sangat aneh. Tapi aku yakin semuanya akan baik-baik saja, lagi pula ini tak akan berlangsung selamanya. Semua ini akan segera berakhir ketika ayah dan ibuku sudah menyadari kalau aku belum siap untuk menikah.”
“Yang kutahu, tak akan pernah.”
“Dan apa maksudnya itu?”
“Draco, aku sudah mengenalmu sejak kita masih memakai popok. Aku tahu kau bukan tipe pemuda yang suka berkomitmen. Itu berarti, kau tak akan pernah bisa hidup hanya dengan satu gadis saja. Apa lagi sampai menikah dan memiliki keluargamu sendiri,” kata Blaise serius.
“Hei, hanya karena aku tak pernah memiliki pacar tetap, bukan berarti aku tak pernah memikirkan hal-hal yang kau sebutkan tadi. Aku baru 18, tak ada salahnya sama sekali kalau aku masih ingin bersenang-senang. Lagi pula gadis-gadis itu yang datang padaku, bukan sebaliknya,” jawab Draco santai.
Blaise hanya mengangkat bahunya.
“Dan kau mengatakannya seperti kau tidak seperti diriku saja,” sambung Draco.
“Paling tidak aku tidak berganti gadis seperti aku berganti pakaian setiap hari,” balas Blaise.
“Itu tidak membuatmu bisa mengelak dari julukan player juga, Blaise.”
“Terserahlah,” jawab Blaise. “Dan kalau kau sudah selesai membicarakan rencana gilamu itu, kurasa sebaiknya aku kembali.”
“Ada acara?”
“Hanya makan siang bersama beberapa orang.”
Draco menaikkan alisnya.
Blaise nyengir, “Kau tahu.”
“Dan kau baru saja menasehatiku panjang lebar tentang bagaimana seharusnya aku lebih menjalin hubungan yang serius,” protes Draco.
Blaise hanya nyengir semakin lebar, membuat Draco ingin melemparnya ke luar jendela dan melenyapkan cengiran menyebalkannya itu. “Yeah, sampai ketemu lagi, Draco.”
“Beri tahu aku kalau kau sudah berhasil.”
“Tentu,” jawab Blaise singkat sebelum lenyap dari pandangan Draco.
Draco meletakkan tangan di bawah kepalanya, memandang langit-langit apartemennya. Menghela napas dalam-dalam dan memejamkan matanya. Semuanya akan berjalan sesuai rencana, pikirnya. Pasti. Dia bisa merasakannya. Semuanya akan berjalan dengan baik.
- TBC -







0 komentar:
Posting Komentar