Disclaimer: I do not own anything, J.K. Rowling does.
Warnings: OOC parah, sinetroness, kacau, abal, aneh, gaje, post-Hogwarts.
Pairing: Draco Malfoy – Hermione Granger
Genre: Romance & Humor
Rated: T
II
Hermione bangun dari tidurnya merasa sangat pusing. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum berjalan terhuyung-huyung menuju kamar mandi. Kepalanya terasa sangat berat dan perutnya agak mual. Dia teringat peristiwa tadi malam, dan mengerang. Akhirnya dia memutuskan untuk tidak akan pernah menyentuh alkohol lagi sepanjang sisa hidupnya.
Semalam dia pasti mabuk berat sampai tak bisa mengingat apa pun kecuali bagian ketika dia merenggut gelas Wiski Api Harry dan meminum isinya sampai habis. Setelah itu semuanya terasa gelap dan dia tak bisa mengingat apa-apa lagi. Dia bahkan tak tahu bagaimana dia bisa kembali ke flatnya. ‘Pasti Harry yang mengantarku pulang,’ pikirnya.
Dia keluar dari kamar mandi dan merasa jauh lebih baik. Dia mengamati pakaiannya dan menyadari bahwa dia masih mengenakan pakaian yang sama dengan pakaian yang dikenakannya tadi malam di Leaky Cauldron. Dia menghela napas, dan memutuskan untuk berendam air hangat.
Beberapa waktu kemudian dia keluar dari kamar mandi dengan wajah yang jauh lebih segar dan turun menuju dapur. Aroma makanan segera menyerbu hidungnya ketika dia memasuki dapur.
“Pagi, Hermione,” kata Harry yang sedang duduk dengan santai di salah satu meja makannya, menikmati secangkir kopi sambil membaca Harian Prophet. “Kopi?”
“Harry?” tanya Hermione terkejut.
“Yeah, aku.”
“Apa yang kau lakukan di dapurku?”
“Membuatkan sarapan untukmu?”
Hermione mengedarkan pandangannya ke meja makan. Benar saja, di meja makan sudah tersaji telur dan sosis goreng. Bahkan ada setumpuk roti panggang yang masih hangat. Pantas saja tadi dia mencium aroma makanan. Hermione tersenyum dan mengambil tempat duduk di hadapan Harry. Kalau ada keuntungan tinggal bersama keluarga Dursley―itu adalah kemampuan Harry untuk bisa memasak.
Hermione mengambil piring dan mulai makan. “Er―trims, Harry. Tapi maksudku, apa yang kau lakukan sepagi ini di dapurku? Dan bukankah seharusnya kau mengikuti pelatihan Auror?”
“Ini sudah jam 11, Hermione. Dan aku tidak ada pelatihan hari ini.”
“Oh,” jawab Hermione singkat, menuang kopi ke cangkirnya.
“Merasa lebih baik?”
“Tidak juga,” Hermione mengangkat bahunya. “Bagaimana aku bisa pulang ke flatku?”
“Aku yang mengantarmu. Merlin! kau mabuk berat, Hermione. Parah sekali, belum pernah aku melihatmu sekacau itu.”
“Yeah, maaf. Mungkin aku hanya terkejut atau apa. Dan aku sudah berjanji tidak akan pernah menyentuh alkohol lagi.”
“Lebih baik begitu. Aku tak yakin bisa menanganimu lagi. Kau berantakan sekali, menolak pulang, dan mengoceh sepanjang jalan,” kata Harry nyengir.
Hermione merasa wajahnya memerah. “Benarkah? Dan bagaimana reaksi Ron?”
Harry mengangkat bahu. “Kurasa dia masih belum menyadari kalau kau naksir dia. Dia berpikir kau nekat minum Wiski Api karena putus asa tidak bisa masuk sekolah healer.”
“Ya dan tidak.”
Harry menaikkan kedua alisnya.
“Aku memang memikirkan sekolah healerku. Tapi kurasa aku sudah tidak menyukai Ron seperti itu lagi.”
Harry mengerutkan dahinya tidak percaya.
Hermione menghela napas. “Yeah, oke. Aku memang tidak bisa melupakan perasaanku terhadap Ron begitu saja. Harry, kau tahu aku hanya naksir dia. Aku tidak pernah bilang kalau aku jatuh cinta setengah mati padanya, kan? Lagi pula sekarang aku punya masalah yang jauh lebih penting daripada harus merasa cemburu pada Ron.”
“Yeah, dan kurasa aku harus minta maaf padamu juga.”
“Kenapa?”
“Aku hanya merasa bersalah. Seharusnya sejak awal aku menceritakan hubungan mereka padamu. Dan aku bersumpah, aku tak memiliki maksud apa-apa. Aku hanya tidak ingin melihatmu sakit hati atau apa. Tapi kurasa aku sudah mengambil langkah yang salah. Mungkin reaksimu semalam tidak akan seperti itu kalau kau sudah mengetahuinya terlebih dahulu.”
“Bukan salahmu, Harry. Dan terima kasih sudah mengantarku pulang semalam.”
“Sebenarnya aku tak punya pilihan lain. Aku tak mungkin meninggalkanmu di Leaky Cauldron dalam keadaan mabuk seperti itu, kan?” tanya Harry menggodanya.
Hermione hanya memutar bola matanya.
“Jadi, bagaimana dengan sekolahmu? Sudah ada solusi?” tanya Harry lagi.
Hermione mengangkat bahu. “Pasti nanti ada.”
“Hermione.”
“Harry, kita sudah membicarakan ini. Dan jawabanku masih tetap sama,” kata Hermione keras kepala.
“Oke, tapi kau tahu aku tidak meminjamkan uang itu secara cuma-cuma. Kalau kau mau, kau boleh mengembalikannya ketika kau sudah menjadi kepala healer suatu hari nanti.”
“Yeah, tapi aku juga masih memiliki waktu, Harry.”
“Waktumu tidak selama itu, Hermione.”
“Aku tahu, Harry. Begini saja, aku pasti akan menerima bantuanmu kalau memang sudah tak ada jalan lain. Oke?”
“Janji?”
“Janji.”
“Bagus. Kau tahu, kau selalu bisa mengandalkanku.”
“Aku tahu. Dan terima kasih untuk semuanya.”
“Yeah. Jadi, kurasa aku harus kembali sekarang.”
“Ginny?”
“Begitulah. Jaga dirimu, Hermione.”
“Kau juga, sampai ketemu.”
Harry bangkit dari tempat duduknya, memakai mantelnya, dan memeluk Hermione sebelum ber-Apparate kembali ke Grimauld Place.
-o0o-
Draco mengacak-acak rambutnya frustrasi. Dia berada di ruang duduk apartemen mewahnya di jantung kota London, menunggu kedatangan Blaise yang sepertinya terlambat beberapa waktu dari perjanjian mereka semula. Draco menghela napas dan melirik jam besar di sudut ruangan. Detik demi detik berlalu, dan kesabarannya semakin menipis.
Ibunya baru saja mengunjunginya dengan tiba-tiba, dan seperti yang sudah dia perkirakan sebelumnya ketika melihat ujung batang hidung ibunya di perapian―ibunya datang untuk membicarakan tentang hal itu lagi dan lagi. Seandainya saja itu orang lain dan bukan ibunya, dengan senang hati Draco akan menghujaninya dengan Kutukan Cruciatus. Sepertinya Azkaban jauh lebih menarik sebagai tempat untuk melewatkan waktu daripada duduk di ruang duduknya―dalam flatnya sendiri―dan mendengarkan apa pun yang dikatakan ibunya. Well, dia memang tak pernah benar-benar mendengarkan apa pun yang dikatakan ibunya belakangan ini. Karena tentu saja, hal yang dibicarakan oleh ibunya adalah hal yang selalu sama.
Perapian di hadapannya berkobar, dan tak lama kemudian sesosok pemuda berambut hitam muncul. Pemuda itu nyengir ke arah Draco yang sudah memasang tampang ingin membunuh. “Sori, mate, ada beberapa urusan penting yang tak bisa kutinggalkan. Kau tahu,” kata Blaise, nyengir lebih lebar.
Draco tidak menjawab, membuat Blaise yakin kalau saja tatapan bisa membunuh seseorang, dia pasti sudah mati saat itu juga. Kemudian Blaise mengangkat bahunya dan duduk di sebelah Draco. “Ayolah, seperti kau tidak tahu saja kalau gadis-gadis itu tidak bisa menahan diri kalau melihatku,” lanjutnya santai.
Draco memukul belakang kepala Blaise dengan bantal duduk. “Kau memang menyebalkan,” umpatnya.
“Hei, itu bukan salahku. Dan aku tak percaya, pernyataan itu keluar dari si Raja Menyebalkan,” kata Blaise, mengusap belakang kepalanya. “Jadi, apa ibumu masih berusaha membujukmu untuk menyetujui ide konyolnya itu?”
“Bahkan kau menganggapnya konyol, kan? Dan―tunggu dulu. Apa yang membuatmu berpikir kalau ibuku baru saja datang ke sini?” tanya Draco gusar.
“Siapa lagi yang bisa membuat wajahmu kusut seperti itu kalau bukan ibumu?” jawab Blaise santai. “Dan gadis mana lagi yang ibumu rekomendasikan sekarang?”
“Parkinson.”
“Pansy?”
“Memangnya ada berapa gadis Parkinson yang kita kenal?”
“Hebat sekali. Berani taruhan, dia pasti akan menerimamu dengan senang hati,” kata Blaise, tertawa keras.
“Yeah, Zabini. Lucu sekali, tertawalah sesukamu,” kata Draco sinis.
Blaise mengerutkan dahinya. Dia tahu Draco hanya memanggilnya dengan nama keluarganya kalau Draco sedang merasa kesal padanya. Tetapi dia tidak peduli, dan meneruskan gurauannya. “Draco, aku hanya bisa membayangkan bagaimana tampangmu ketika ibumu mengatakan bahwa kau akan dijodohkan dengan Pansy. Sayang sekali aku tak melihatnya,” kata Blaise, memegangi perutnya.
“Yang benar saja. Usiaku baru 20, dan mereka sudah mengharapkanku untuk memberi mereka cucu. Dan dari semua gadis yang ada, mereka menjodohkanku dengan Parkinson! Parkinson! Merlin, aku bahkan akan lebih memilih Granger daripada si muka anjing Parkinson,” sembur Draco.
Blaise tidak menjawab, dia hanya terpana memandang Draco.
“Apa?” tanya Draco jengkel.
Blaise masih tetap diam.
“Blaise? Kau baik-baik saja?” tanya Draco agak cemas.
Blaise menggelengkan kepalanya. “Sori, mate. Hanya membayangkan sesuatu.”
“Yeah?”
“Well, dengan orangtua sepertimu dan Hermione, aku tak akan ragu kalau mereka akan menjadi orang-orang hebat.”
“Mereka?”
“Anak-anakmu dengan Hermione.”
“APA?!”
“Tadi kau bilang kau akan lebih memilih Hermione daripada Pansy.”
“Yeah, tapi aku ti―” Dan tiba-tiba saja, sebuah ide terlintas di benak Draco. Ide brilian yang dia yakin pasti akan berhasil. Dia memandang Blaise dengan senyum mengembang di wajahnya. “Blaise, kurasa aku sudah menemukan solusi untuk masalahku.”
“Kau yakin?”
“Positif.”
- TBC -







1 komentar:
Oke, saia tidak bisa berhenti tertawa ketika mengetahui bahwa Draco akan dijodohkan dengan Pansy. Pasti menyenangkan sekali melihat wajahnya ketika Lucius dan Narcissa memberi tahu hal itu pada Draco. Oh, poor him.
Dan Sista, lagi2 kamu memotong fic ini di bagian yang paling membuat saia penasaran. Jadi apa rencana Draco???
Saia penasaran. Jadi hanya ada satu kata untuk mengakhiri review tidak penting saia: UPDATE!!!
Luv ya,
Theia
Posting Komentar