RSS
Post Icon

The Destiny I

Disclaimer: I do not own anything, J.K. Rowling does.
Warnings: OOC parah, sinetroness, kacau, abal, aneh, gaje, post-Hogwarts.
Pairing: Draco Malfoy – Hermione Granger
Genre: Romance & Humor
Rated: T

I

Hermione Granger mengedarkan pandangannya ke sudut-sudut ruangan di Leaky Cauldron, mencari kedua sahabatnya―Harry Potter dan Ron Weasley. Penerangan di ruangan itu tidaklah terlalu baik, sehingga dia harus menyipitkan matanya agar bisa melihat dengan lebih jelas.
‘Di mana mereka?’ tanya gadis itu dalam hati. Dia mengedarkan pandangannya sekali lagi, sebelum mendengar suara seseorang yang memanggil namanya.
“Hermione! Di sini!” Gadis itu menoleh ke sebelah kanannya, dan menemukan pemilik suara yang familiar itu. Senyumnya merekah ketika dia melihat Harry sedang duduk bersama Ron tak jauh dari tempatnya berdiri.
“Harry!” sapa gadis itu. Dia melambai dan berjalan mendekati mereka. “Aku tidak melihat kalian duduk di situ.”
“Kami juga tak melihatmu,” kata Harry berdiri, dan memeluk gadis itu.
Hermione mengangkat bahunya, dan duduk di sebelah Ron. “Ron, kau baik-baik saja?” tanyanya ketika melihat Ron yang sepertinya agak gugup.
“Er―yeah, tentu. Bagaimana kabarmu, Hermione?” tanya Ron.
“Aku baik,” jawab gadis itu sambil melemparkan pandangan ke arah Harry yang menolak untuk membalas pandangannya.
‘Ada yang mereka sembunyikan,’ kata gadis itu lagi dalam hati. “Jadi, bagaimana pelatihan Auror kalian?” tanya gadis itu lagi.
Saat ini Harry dan Ron sedang mengikuti pelatihan Auror di Kementrian. Sebenarnya mereka tidak perlu repot-repot mengikuti pelatihan itu, karena setelah semua jasa-jasa mereka dalam mengalahkan Voldemort beberapa waktu yang lalu, tentu saja Kementrian Sihir akan dengan senang hati menerima mereka sebagai Auror. Selain itu, kemampuan sihir Harry dan Ron sudah jelas teruji.
“Seperti biasanya, apa peduliku?” jawab Ron tak acuh.
Hermione menyipitkan matanya berbahaya. Harry yang mulai merasa akan terjadi pertengkaran, segera menengahi mereka. “Er―Hermione, kurasa Ron hanya kelelahan.”
“Oh Harry, yang benar saja. Aku masih tidak mengerti kenapa kita harus mengikuti pelatihan-pelatihan konyol itu kalau kita bisa langsung menjadi Auror? Kurasa kemampuan kita sudah jelas teruji. Kita bahkan sudah menghadapi bahaya jauh lebih banyak dari para Auror senior kita,” gerutu Ron.
“Ya, tapi itu sama sekali tidak benar,” kata Hermione menggelengkan kepalanya tidak setuju. “Kau harus tetap mengikuti prosedur yang ada, Ron.”
“Yeah, tentu saja. Bukan kau yang harus menderita luka-luka dan memar-memar di sekujur tubuhmu akibat latihan-latihan brutal itu,” kata Ron.
“Bukan itu masalahnya,” kata Hermione.
“Terkadang aku masih belum bisa memahami jalan pikiranmu, Hermione,” kata Ron, melemparkan senyum ke arah gadis itu.
Hermione merasa wajahnya memanas, dan dia yakin saat ini pasti pipinya sudah memerah. Diam-diam dia berterima kasih pada penerangan yang tidak baik di ruangan itu. Dia tidak pernah bilang kalau dia jatuh cinta pada Ron, tapi dia pernah mengakui pada Harry kalau dia memiliki sedikit perasaan khusus pada salah satu sahabatnya itu.
“Jadi, apa yang sedang kau lakukan saat ini, Hermione?” tanya Harry. “Ada kemajuan?”
Hermione menghela napas panjang. “Tak ada sama sekali,” kata gadis itu sedih. “Aku hanya mencoba sedikit lebih berhemat lagi. Dan, yeah―”
Harry membalas senyum gadis itu. Mereka berdua tahu, Hermione sudah bekerja cukup keras untuk mengumpulkan biaya sekolah healernya di salah satu sekolah healer eksklusif di Jerman. Sekolah ini sama dengan ‘universitas’ dalam istilah Muggle. Harry tahu, menjadi seorang healer adalah impian Hermione sejak dulu. Tetapi sepertinya impian itu tidak akan pernah terwujud, mengingat Hermione selalu menolak tawaran bantuannya.
“Hermione,” Harry memulai. “Kau tahu, aku bisa mem―”
Tetapi Hermione dengan cepat memotongnya. “Aku tahu kau bermaksud baik, Harry. Tapi kurasa aku bisa menemukan jalan keluar untuk masalahku sendiri. Terima kasih sebelumnya.”
Harry mengangguk menyerah. Tak ada gunanya sama sekali berusaha membantah Hermione. Gadis itu sangatlah keras kepala. Tetapi mau tidak mau Harry merasa harus ikut memikirkan sekolah Hermione, walau bagaimana pun gadis itu adalah salah satu sahabatnya. Dan dia jelas tidak mau kalau masa depan Hermione terbuang sia-sia hanya karena masalah biaya. Yeah, sekolah healer memang tidak murah. Hermione pernah bilang padanya kalau biaya sekolah itu selama empat semester mencapai lima ribu galleon. Jumlah yang tidak sedikit, dan tentunya hanya bisa dijangkau oleh orang-orang dari kalangan tertentu.
Hermione yang merasa tidak enak karena sudah menolak tawaran Harry, segera mengganti topik. “Apakah kita sedang menunggu seseorang?” tanyanya, ketika melihat sebuah kursi yang masih kosong di hadapannya. “Apakah Ginny akan bergabung dengan kita, Harry?”
“Oh,” kata Harry, mengacak rambutnya―pertanda kalau dia sedang merasa tidak nyaman. “Tidak.”
“Lalu?” tuntut Hermione.
Harry memandang Ron. “Kursi itu untuk―”
“Ya?” desak Hermione.
“Lavender,” panggil Ron tiba-tiba. “Di sini!”
“Lavender?” Ekspresi heran tergambar jelas di wajah Hermione. Dia memandang Harry, yang membalas pandangannya dengan iba.
Kemudian gadis itu memandang Lavender yang sedang berjalan menghampiri meja mereka. Lavender yang langsung mengalihkan perhatian Ron secara keseluruhan. Gadis itu memandang Harry lagi yang sepertinya sengaja menyibukkan diri dengan Wiski Apinya. Kemudian memandang pasangan di hadapannya lagi. Dan pemahaman itu langsung menghantamnya. Pasangan.
Hermione menyipitkan matanya.
Ron lebih memilih LAVENDER BROWN dibanding dirinya?
Tangan Hermione terjulur ke arah Harry, merenggut gelas Wiski Api yang sedang dipegang pemuda itu, dan tanpa berpikir segera menghabiskan isinya dengan sangat cepat.
Dia tidak bisa mempercayai semua hal yang terjadi dalam hidupnya. Dia baru saja dikalahkan oleh gadis seperti Lavender Brown. Oke, Lavender memang cantik. Tetapi bukankah kemampuan otak jauh lebih penting dari pada kecantikan fisik? Dan mimpinya untuk masuk sekolah healer juga sepertinya tidak akan pernah terwujud. Benar-benar hebat.
Kenapa hidupnya bisa berubah kacau seperti ini? Demi Merlin! Dia penyihir terpandai seusianya, lulusan terbaik Hogwarts seangkatannya, salah satu pahlawan perang. Dan lihat apa yang sedang dilakukannya saat ini? Menenggak Wiski Api di sebuah pub kecil yang gelap dan kotor di Leaky Cauldron. Brilian.

-o0o-

Sementara itu, di suatu tempat yang lain, Draco Malfoy sedang duduk di salah satu restoran Prancis kelas satu. Mata kelabunya terlihat tegang, sepertinya dia sedang banyak pikiran.
Monsieur?” kata seorang pelayan, dengan aksen dibuat-buat yang terdengar konyol. “Anda ingin tambah wine?
Draco mengangguk, rambut pirangnya bersinar dalam keremangan cahaya. “Please,” katanya otomatis. Dia menyesap gelas winenya yang baru saja terisi ulang.
“Draco!” sebuah suara mengejutkannya dari belakang, dan tak lama kemudian dia merasakan tangan pemilik suara itu menepuk punggungnya.
Draco menggerutu, menyemburkan wine yang sedang diminumnya ke dalam gelasnya. Dia terbatuk dan menepuk-nepuk dadanya.
Setelah beberapa waktu, akhirnya pemuda itu mendapatkan napasnya kembali. Dia menyeringai. “Blaise.”
“Yeah, tentu saja,” kata Blaise dengan suara dalam yang sudah pasti bisa memikat gadis mana pun. Dia mengambil tempat duduk di sebelah Draco.
 Blaise Zabini adalah sahabat Draco. Dan meskipun mereka lebih sering bertengkar dan menggoda satu sama lain, mereka tahu mereka bisa saling mengandalkan satu sama lain. Blaise seusia dengan Draco, dan berada dalam satu asrama yang sama dengannya di Slytherin selama tujuh tahun mereka di Hogwarts. Dia pemuda keturunan Italia, dan sepertinya dia mewarisi ketampanannya dari pihak ibunya. Karena tak akan ada seorang pun yang bisa menyangkal bahwa Mrs Zabini adalah wanita yang sangat cantik dan anggun.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Blaise, memandang sahabatnya dengan intens.
“Tidak jauh berbeda dengan terakhir kali kita bertemu Blaise, yang secara kebetulan adalah kemarin malam.”
Blaise tertawa. “Itu formalitas, Draco.”
“Terserahlah,” kata Draco menyeringai.
“Lalu bagaimana dengan orangtuamu? Aku yakin sekali, aku tidak menanyakan kabar mereka kemarin malam.”
“Lebih parah dari biasanya,” jawab Draco sekenanya.
“Sudah kuduga,” seringai Blaise.
Draco mendengus. Dia tidak perlu bersusah payah untuk menyembunyikan perasaan tidak sukanya pada ayah dan ibunya. Dan hal ini sama sekali tak ada hubungannya dengan masa lalu mereka sebagai mantan Pelahap Maut. Ya, mantan. Karena dia dan kedua orangtuanya tak pernah terlibat dalam usaha Voldemort untuk menguasai dunia sihir. Yang terjadi justru sebaliknya.
Tidak. Draco Malfoy tidak mendapatkan pencerahan atau apa, dan memutuskan untuk bergabung dengan Harry Potter begitu saja. Hal itu terjadi karena pemuda itu cenderung lebih menyukai kemenangan. Dan meskipun kedengarannya aneh, tapi dia pernah berpendapat bahwa pihak yang benar akan selalu menang. Meskipun demikian, dia tidak akan pernah mengaku secara terbuka pada orang lain bahwa diam-diam dia selalu berharap bisa menjadi orang baik.
Draco menggelengkan kepalanya. Ketika dia masih kecil, dia sering sekali membayangkan dirinya sebagai seorang pahlawan, tetapi ide itu telah jauh meninggalkannya ketika dia beranjak dewasa. Tetapi meskipun demikian, dia senang telah membantu pihak Dumbledore dalam peperangan dan meyakinkan ayah dan ibunya untuk ikut membantu. Dan benar saja, hal itu telah menyelamatkan keluarganya, dan itulah alasannya mengapa mereka masih menjadi keluarga yang terpandang di kalangannya. Dan di sinilah letak permasalahannya.
Sebagai penerus satu-satunya keluarga Malfoy, ayah dan ibunya berharap terlalu banyak sampai pada titik di mana dia beranggapan bahwa hal yang mereka coba lakukan akhir-akhir ini lebih mengerikan dari hal apa pun yang pernah mereka lakukan sebagai Pelahap Maut. Dan tentu saja, hal inilah yang membuat Draco memutuskan untuk tinggal jauh dari ayah dan ibunya.
Draco mengenyahkan pikirannya. “Kau tahu, aku tak suka membicarakannya.”
Blaise menggelengkan kepalanya, mencemooh. “Draco, kau tahu Lucius dan Narcissa tak akan pernah berhenti.”
Draco tidak menjawab.
“Draco?”
“Aku tahu,” jawab Draco lirih.
“Mereka akan melakukan apa pun.”
“Aku tahu.”
“Mereka tak akan menyerah sampai kau menyetujuinya.”
“AKU TAHU! Demi Merlin!” Draco meledak, dan berhasil mendapat pandangan penuh celaan dari orang-orang di sekitarnya.
Blaise hanya mengangguk dan menyeringai selagi dia berbalik dan mentransfigurasi kursi yang didudukinya agar terasa lebih nyaman. Akhirnya, dia mengangkat gelasnya dan mulai mengobrol dengan malas-malasan, sekadar melewatkan malam.

- TBC -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Kakak~ aku sudah baca dari berhari-hari yang lalu dan mungkin berminggu-minggu. Haha

Tambah yaa, Tambah lagi dong :) okay kak? tambah yaa.

Go to the review :

Okay, aku senang melihat Hermione -menderita- di sini (?) (dilempar ke danau)
di sebagaimana dengan banyak gelar yang dimilikinya tidak mudah menjalani hidup, HAHAHA.
ta-Tapi... dia jealous dengan Lavender? (cemberut) enggak setuju ron-mione ada hal aneh (?)

dan

surprise dengan Draco, dia ada masalah apa? ada apa dengan ortu-nya Draco o.O? mau diapain?
aaaah, aku pengen backstorynya kak... pengen tahu. HAHA

Finally, cuma mau bilang: UPDATE CHAPTER 2 secepat mungkin. aku tunggu sister XD hehe

UPDATE UPDATE UPDATE UPDATE UPDATE UPDATE UPDATE UPDATE UPDATE UPDATE UPDATE UPDATE UPDATE UPDATE UPDATE UPDATE UPDATE UPDATE

Unknown mengatakan...

Sista...

Akhirnya fic ini kamu re-post lagi. Saia pernah melihat fic ini beberapa waktu yang lalu. Tapi waktu saia mau memberi komentar, fic ini sudah kamu hapus. :(

Untuk komen, saia belum bisa bilang apa-apa karena masalahnya belum terlihat. Jadi saya akan menunggu kamu post chapter selanjutnya terlebih dulu. Tapi sepertinya masalah Draco dan Hermy cukup gawat juga ya? Haha...

Oke, saia tunggu chapter berikutnya. Dan kalau boleh saia bertanya, kenapa kamu tidak publish fic ini di FFn saja? Saia yakin, sudah banyak yang menunggu kamu kembali menulis di sana lagi. ;p

Bear hug,
Theia

Posting Komentar